Sore di Beranda Depan

Aku menyelami pupil matanya yang hijau. “Seringkali kita berkubang terlalu lama dalam kesedihan, penyesalan, dan mengasihani diri sendiri. Kita begitu mudah menyerah terhadap kehilangan, penderitaan, lalu menerimanya sebagai bagian dalam kehidupan, bahkan menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan.”

“Lalu pertanyaanku selanjutnya, kita sekarang ada di dalam kubangan yang mana?”

Sekian detik sepi.

Kemudian dia mulai bersuara. “Begitu ya?”
“Ya. yang kutahu…”

Begini. Sudah lama kami bersahabat. Aku sudah mengenalnya selama lebih dari separuh hidupku, dan semoga sampai tua, kami akan selalu dan tetap saling kenal. Betapa beruntungnya kami, tidak pernah beralasan apapun untuk sekadar berteman. Aku sudah pernah menyebutkan namanya beberapa kali di sini. Berasal dari bahasa yunani, artinya bijaksana. Dia orang yang tak terduga, lincah, dan selalu bersemangat. Aku? lebih menyukai ketenangan dan diam. Situasi ini begitu konsesif dengan siapa diri kami dibalik keseharian dan keramaian. Dia dengan kegelisahan dan kesedihan panjang, dan aku, selalu menikmati waktu meski heboh kesulitan di sana-sini.

Malam ini, aku tidak akan menulis banyak tentang dia, maupun kami berdua. Perbendaharaan kataku sedang sangat miskin, dan aku perlu membaca lebih banyak paragraf dalam buku-buku. Satu hal saja pesanku malam ini; kami suka sekali memulai percakapan dengan satu huruf. Dia mencintai kabut dan dingin malam menjelang pagi. Aku amat merindukan subuh dan kesyahduan panjang sampai matahari naik sepenggalah. Kabut dan subuh. Lalu kami disatukan dengan pagi. Bukankah ini terlalu mudah untuk menebak bagaimana rupa kepribadian kami?

Begitulah. Seperti sore ini, percakapan kami hendak ditutup, setelah pagi tadi kami sudah saling bertemu dan mengobrol sebentar di beranda depan rumahnya.

“Hei, come on! Kamu harus sering-sering bergerak lebih banyak dari biasanya. Nanti perutmu buncit.” Dia tertawa. Matanya semakin menawan saja.
“Aku sudah buncit” jawabku sekenanya. “Mending seruput teh hijau atau cokelat hangat. Supaya tubuh lebih rileks. Sekarang, kota-kota makin bikin pusing” Ada yang berubah dari wajahnya. Aku tahu itu bukan kejujuran. Matanya lebih banyak bicara. Aku tetap fokus pada buku yang sedang kubaca, sambil memegang cangkir kecil. Tanpa melihatnya, aku bilang, “Kamu bohong.”

Dia jengah, pura-pura melakukan gerakan pemanasan. Aku tetap membaca buku, sambil berkata,
“Saat kamu mengatakan kebohongan, sebetulnya kamu sedang mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran”

11135021713_a57b0b6e03_c***

Lalu kami kembali pada kesibukan masing-masing.

kabut dan subuh yang syahdu
Bogor; Rabu, 27 Mei 2015

23:47 WIB | 11:47 pm

Advertisements

One comment

  1. syukaaa.

    kenalin sm dia doong 😉

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: