Hello, Blessed Ramadhan!

Thank you for not interrupting me whenever I try to write in my bedroom and not doing anything
except writing for a day.

Thank you for always giving me courage when I don’t believe myself anymore.
Thank you for teaching me patience and the positive side in the worlds full of negativity.
I’m really glad you are my mom because you are one of the best people I’ve ever met.
(The Daily Journal)

Hai!
Postingan pertama di bulan Romadhon yang… uhm… sedikit terlambat (?). Masuk di sepuluh hari kedua dan saya baru posting 1 tulisan. 🙂 Setelah meluangkan waktu sejenak untuk blogwalking, saya nemu quote itu dan rasa-rasanya begitulah saya selama “libur” ini. Kalau saya lihat kawan-kawan yang rata-rata kerja kantoran, berangkat pagi, pulang sore menjelang petang, bahkan ada yang sampai malam, berjubel macam pindang penyet di CL Jabodetabek, jujur saya iri. Saya pengen ngerasain capeknya jadi workaholic macam itu. Meskipun kalau dengar curhatan beberapa teman pun, mereka nggak suka juga dengan pola keseharian yang rentan drop fisik, pikiran, dan hati mungkin? Waktu untuk membaca buku pun susah. Semuanya diburu kelelahan, dikejar waktu yang kalau nggak dipakai untuk istirahat, bisa-bisa nongkrong di rumah sakit.

Klise. Urut-urutannya selalu begitu. Saya dengan kehidupan A dan teman dengan kehidupan B, lalu kami saling iri. Padahal kami sama-sama “bekerja” dan dapat penghasilan. Bedanya? Saya nggak duduk di gedung kantor, sedangkan teman saya ada kewajiban untuk hadir di kantor, entah duduk manis atau nggak selalu duduk, tapi berdiri dan jalan-jalan mungkin? ya mungkin aja.

Focus! and you will get what you focus on
Satu bulan di bulan Romadhon ini sudah saya tekadkan untuk menyelesaikan novel yang tertunda selama… berapa ya, kurang lebih dua tahun. Nyaris. Pokoknya setelah lebaran harus udah jadi, tinggal packaging sebelum goes to publisher. Saya hanya harus mengabaikan semua gangguan dari sekitar. Saya hanya harus fokus sampai akhir bulan ini, maksimal sampai awal bulan syawal. Come on…

Proses ini sungguh menyiksa. Saya capek. Selalu cari kesempatan untuk nangis, tapi saya terlalu malu untuk sekadar keluar air mata. Saya hanya harus melawan diri sendiri, yang sungguh sulit ternyata. Nafsu yang namanya malas itu nggak ada rupanya, nggak ada baunya, nggak ada teksturnya, tapi dia betul-betul kejam, jahat, buruk. Kalau saya sampai lulus tahap ini, insyaaAllah i will get my focus on and enjoy my victory, ya kan?
481406_星火燎原

Nonton Film
Alhamdulillah, saya bukan tipe anak rewel yang selalu butuh tim hore supaya semangat lagi. Buat bikin semangat saya balik lagi, gampang banget. First step, kepo akun social media temen yang udah punya prestasi (karya) lebih dulu dan published! Second step, baca lagi dream list yang sudah saya tulis dengan harapan meletup-letup, dibikin tengah malem dengan mata kriyep-kriyep. Third step, nonton film! 😀

Saya nyari spot wifi kenceng pas sebelum puasa dan awal-awal bulan puasa, just for download film! Hahaha. Senang. Saya download film yang berhubungan dengan buku, build and get the passion, biografi tokoh, writing, dan dunia kepenulisan. Yaa.. jenis-jenis itulah. Bahagia banget begitu saya nonton film itu satu per-satu. Termotivasi, yes. Meskipun ada beberapa film yang endingnya nggak asik banget, tapi okelah pesan-pesannya tetep dapet. Kapan-kapan saya akan ulas film itu, as usual 😉 Ada satu film, yang punya percakapan persis kayak salah satu percakapan di buku Kite Runner. Seorang Ayah yang nggak percaya anaknya bakal bisa bertahan hidup dari profesi penulis.
the words 1

***

Yep. Semoga Romadhon yang saya lalui kali ini, dengan banyak sekali perubahan dari tahun lalu, benar-benar Allah berkahi pada setiap detiknya. Kalau udah berokah, insyaaAllah kesananya lancar, langkah-langkah berikutnya mudah. Aamiin. 🙂

and i will be nothing if there is no you, Ibuk… yang selalu ngingetin untuk bangun malam dan nulis, yang nggak pernah capek nanya kapan novel selesai, walaupun saya sering misuh-misuh dibawelin. But, its a thing that i will be missed.

Thank you for not interrupting me whenever I try to write in my bedroom and not doing anything
except writing for a day.

Thank you for always giving me courage when I don’t believe myself anymore.
Thank you for teaching me patience and the positive side in the worlds full of negativity.
I’m really glad you are my mom because you are one of the best people I’ve ever met.
(The Daily Journal)

nunggu hujan,
Selasa; Bogor, 30 Juni 2015
4:24 pm | 16:24 WIB

Advertisements

7 comments

  1. Unless km bs cari tempat tinggal yg within walking distance dr kantor (15-30menit), sungguh tiada alasan untuk iri dgn pekerja kantoran. Jakarta’s traffic is chraaaaaazyyyy!

    1. yap. setelah kupikir-pikir, aku terlalu dinamis untuk bekerja kantoran. Lagipula, menyiasati kemacetan itu harus cerdas juga. Nggak kebayang mesti ngabisin sebagian besar hidup dalam traffic jam :”( tapi karena aku pengen banget jadi editor, barangkali trial and error dulu sebentar bisa kali ya mbak tika, as you suggest, yang 15-30 menit dari rumah ke kantor.

      1. Ho oh mbak. Suamiku aja sering dibelain jalan dr Gatsu ke rumah. 1 jam waktu tempuhnya. Tp gpp lah drpd nunggu angkot kadang lama, trs lebih cepet nyampenya klo jalan kaki drpd stuck di traffic 🙂 asalkan ada trotoar, byk kok warga Jakarta yg jg suka jalan kaki nembus kemacetab.

  2. Halo mba Sekar, salam kenal.
    Memang ladang orang lain selalu lebih hijau daripada ladang sendiri. Saya pun gitu, iri sama orang-orang yang kerja kantoran di gedung gede, pake lift yang karyawannya banyak jadi bisa cuci mata, syukur-syukur dapat jodoh. Hehehe. Saya sampe pernah minta ke atasan, mungkin gak ada kegiatan “pertukaran karyawan” buat sebulan ajah, study banding gitu. Hehehe.Karena saya yakin, bakal bosen setelah 3 bulan, hehehe.

    Mungkin seru juga tuh kalo ada movement anak muda semacam Kelas Inspirasi yang bertujuan buat tahu macam-macam pekerjaan, judulnya bisaTukeran kerjaan buat sehari ajah gitu. Hehehe.

    Semangat mba buat bukunya. Salam buat ibu yang selalu jadi alarm yah..

    1. kayak program tv “jika aku menjadi” itu ya mbak.. hehe. Rata-rata yang ikutan kan pekerja kantoran di ibukota. Tapi settingnya diganti, jadi di rumah atau bisa dimanapun. Semacam freelance mungkin. Sebenernya aku juga nggak berharap kerja kantoran sih. Capek pasti, dan karena aku tinggal di bogor (bogor sekarang sama aja kayak jakarta, macet parah T_T) jadi cukup freelance, hehe

    2. oh ya, mbak dewi, makasih lho udah mampir. salam kenal kembali 😀

  3. […] berkekuatan 100 kuda. Gue nonton film ini ketika gue lagi down akibat…uhm…bosan (?) Postingan ini mungkin bisa sedikit menjawab […]

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: