Kisah Seseorang yang Membiarkan Air Matanya Menulis di Atas Kertas #1

Dia sedang menulis tulisan ini ketika duduk sendiri di bangku panjang, depan taman, depan beberapa baris pohon hijau. Tempat yang ia datangi tadi, rasa-rasanya sepi sekali. Barangkali dia kehilangan teman-teman? Mungkin saja, karena mereka sudah harus melanjutkan hidup masing-masing, lepas dari hidup sebelumnya yang mau tak mau, suka tak suka, takdir membuatnya harus dituntaskan bersama. Ya, bersama! Bersama orang paling menyebalkan, bersama orang paling cerewet, bersama orang paling otoriter, bersama orang paling keras kepala, bersama aneka isi kepala. Dia juga harus mencari dunia baru lagi supaya tetap eksis, dijalani lagi dari nol, dan dinikmati.

Semenjak 2 tahun lalu, dua kata “ternyata dan betapa” menjadi ajaib begitu dia temukan kejadian-kejadian yang membayangi dua kata tersebut.

“Ternyata, jadi dewasa itu bikin sering sakit”
“Ternyata, rasanya cari uang itu begini”
“Betapa bahagianya jadi anak muda”
“Betapa waktu cepet banget lari. Tau-tau udah lewat satu tahun, dua tahun, empat, lima, dst…”

Di sela-sela ternyata dan betapa, selalu ada penyesalan besar terhadap sesuatu yang sering lupa diperjuangkan. Entah lupa karena disengaja atau lewat begitu saja. Lalu yang menyesal, tidak bisa berbuat apapun selain menulis air matanya, kemudian disimpan. Pertama, dia menangis. Kedua, dia tadahkan air matanya di atas sebuah kertas. Kalau tangisannya lama, kertasnya bisa berlembar-lembar. Sudah, begitu saja. Dia biarkan air matanya yang menulis sendiri. Apa sebab benda itu keluar dari dua bola matanya yang bulat dan merah karena sering gatal, dia biarkan air mata itu menciptakan garis-garis huruf di atas kertas. Kertas yang basah itu dikeringanginkan di atas meja belajar. Ketika satu tetes air keluar dari dua sudut matanya, air itu bergerak lincah di atas kertas. Bayangkan ketika Anda menggunakan kuas dan cat lukis di atas kanvas, kuas akan bergerak lihai membentuk gambar seperti yang dikehendaki si pelukis. Nah, seperti itulah air mata miliknya menata huruf demi huruf, sampai menjadi baris-baris kalimat panjang. Air matanya sedang bercerita.

paper-autumn_00347102Biasanya setelah selesai air mata menulis cerita pada suatu malam, dia simpan kertas itu untuk dirinya sendiri di dalam laci. Setelah beberapa waktu lama, akhirnya dia memutuskan untuk membuat air matanya betul-betul terbaca orang lain, dengan menjemurnya di pipa paralon bekas yang panjang, dan memang biasa ia gunakan untuk menjemur pakaian. Kalau jemuran pipa paralon penuh dengan baju-bajunya, ia gunakan hanger untuk mengeringkan kertas-kertasnya yang sudah terisi penuh cerita si air mata. Dia biasa menjemur kertasnya sebelum subuh atau lewat tengah malam.

Uhm… begini, kalau ada yang punya nasib sama, tentu rasanya lebih ringan. Dunia ini terlalu banyak dihuni orang-orang dengan penyesalan lebih besar terhadap hal-hal kecil, seperti “kenapa mesti pakai sepatu warna ini sih, nggak eye catch kan jadinya. Harusnya tadi pakai yang warna satunya lagi.”

Kemudian si tukang nulis air mata tertawa pahit, makin menangisi dirinya sendiri. Rupanya, pada setiap bagian hidupnya, dia tidak pernah menyelesaikan ceritanya seorang diri. Selalu saja ada orang lain yang sedang berusaha sama gigihnya, sama terserok-seroknya, sama babak belurnya, sama kacaunya. Hanya saja dia tidak pernah tahu. Jelas. Dia bodoh sekali tak tahu berapa jumlah penduduk bumi. Ya sebanyak itulah kertas-kertas penuh air mata juga dijemur.

Ternyata…

karena begitu sering dia meneteskan air mata dan membiarkannya menuliskan dirinya sendiri di atas kertas, dia tak lagi mudah melamun dan sakit kepala. Itu saja yang ia lakukan di sisa hidupnya, sejak dia duduk di bangku panjang, di depan taman dan depan deretan pohon besar. Sampai orang-orang mengira dia sakit fisik dan sakit jiwa, sebab air matanya tidak pernah berhenti membasahi kertas, meja, bangku panjang, sampai lantai. Becek. Tapi dia tak peduli, terus saja menulis sampai larut, sampai pohon-pohon pun menyuruhnya pulang karena tak tega melihat matanya bengkak.

cerita air mata bagian pertama
Jumat; Bogor, 3 Juli 2015
6:36 pm | 18:36 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: