Kata Ibu Guru…

Subuh yang hangat dan khidmat.

Tidak ada rutinitas yang dilakukan setiap subuh kecuali menyingkap selimut, menyampirkan handuk di bahu, dan berlari kecil bersama dua katup mata setengah terbuka. Jika kurang bejo, kaki kecil kami berdarah karena terantuk benda tajam selama perjalanan berkeliling rumah tetangga. Apalagi yang kami lakukan, selain membangunkan para prajurit, menunaikan kewajiban, semacam ritual sebelum berangkat sekolah. Ramai-ramai suara rumput, kerikil, kayu, daun kering, sampai serangga terinjak kaki-kaki kurus, hitam, dan kapalan yang bahkan tak sengaja juga menginjak kaki temannya. Kalau sudah lebih dari 10 kepala, maka prasyarat ritual sudah terpenuhi setengahnya. Setengah sisanya, biarkan Kapten Tim yang urus.

rarindra-prakarsa-01

Barangkali ribut-ribut semacam itulah sarapan paling renyah bagi para orang tua. Subuh yang riuh, siang yang panjang, sore yang bergegas, dan malam yang larut. Lalu, ke mana pagi? Dia ada, tapi sedang bekerja. Pagi adalah waktu kami menanam, meskipun sering juga kami menuai pada waktu yang sama. Kami belajar dari kertas buram bernama LKS pun juga pagi-pagi. Pagi itu, waktunya kami berpikir lebih jauh. Termasuk melihat bentang desa dan kota di bawah kaki Merbabu. Di sana, kami melihat masa depan.

Kenapa harus di bawah? Padahal semua orang melihat ke atas untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Tidak juga. Bagi kami, melihat ke arah manapun sama menyenangkannya. Ibu Guru bilang, semua yang kami inginkan ketika dewasa harus ada di dalam kepala, dikhidmati dengan hati, dan dilakukan bersama perbuatan. Bahkan meskipun kami tak mampu melihat, kami masih punya tiga kunci itu untuk tetap hidup dan berlari. Mungkin saja, ini hanya kemungkinan, Ibu Guru ingin kami melewati jalan-jalan yang banyak cabangnya di bawah sana, singgah di pinggiran, lalu kembali lagi ke atas. Ini semacam pencarian jalur ke puncak, mungkin.

ipoenk-graphic,aku-dan-kambingku,People-Children-Indonesia-Landscape-Art-Photoshop-Photography-Human Interest-Nature-Culture-Digitalgambar dari sini

Sama seperti ketika kami ribut sekali bangun subuh, mengumpulkan pasukan, dan melakukan ritual wajib. Mata kami masih penuh kotoran, kelihatan seperti lampu semprong yang mulai redup, goyang-goyang, sebentar lagi mati karena sudah mau pagi. Jika bukan karena tubuh kami yang bergerak, isi kepala kami yang mendorong, dan hati kami yang mengharuskan, pasti kami tetap konsisten berada di balik selimut. Mengubur kepala lebih dalam di antara tumpukan bantal dan guling. Kemudian prajurit lain kembali dengan seluruh tubuh segar, menyisakan gemeletuk gigi dan wajah sumringah, sedangkan yang tetap berselimut tadi, jangankan sumringah, dua matanya bahkan sulit dibuka, lengket akibat tumpukan tahi.

Kami anak lereng.
Dia memberi kami kehidupan yang mengharuskan setiap penduduknya berbicara dengan suara tegas, memanggil dengan lantang, mengucapkan nama dengan lembut, bertanya sedikit, banyak tersenyum, sering tertawa, dan menahan marah. Oh ya, termasuk menonton pertunjukan wayang kulit. Di sanalah kami saling bercerita. Kata Ibu Guru, inilah cara kami tumbuh. Barangkali, cerita seperti ini yang kami rindukan ketika sudah dewasa. Cerita nina bobo yang keluar dari mulut para orang tua. Sudah terlalu banyak hal-hal yang orang dewasa pertanyakan, tapi sesungguhnya mereka tak butuh jawaban. Atau mereka bertanya ini dan itu, tapi tak pernah puas. Ibu Guru menjelaskan kepada kami dengan mata dan pipi basah.

18900148560_e0c238087b_bgambar dari sini

Ibu Guru,
ternyata kami memang rindu pada setiap sudut kehidupan di situ
di lereng Merbabu,
tempat kami tumbuh, menikmati subuh dengan hati yang syahdu…

sebuah penggalan
Bogor; Selasa, 7 Juli 2015
00:56 am | 00:56 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: