Negeri Bidak

Sudah beberapa kali saya sadar –lebih tepatnya disadarkan– begitu saja seperti kepala kita yang tiba-tiba ingat pekan depan ada tanggal merah, long weekend, bisa istirahat atau jalan-jalan sesukanya. Tidak perlu disebut bagaimana rasanya. Nah, saya pernah curhat juga soal ini. Kenapa tiba-tiba pada titik usia yang ke-sekian ini, saya jadi tahu A, B, C, D, dst… dst… Barangkali ini jawaban doa saya setiap jungkir balik, “Ya Allah, beri saya kekayaan ilmu, keteguhan iman, dan kelmpahan harta…” kemudian diikuti kalimat-kalimat mengemis lain yang meluncur begitu saja. Setidaknya kalau saya sudah capek maksimal, mengeluh dengan cara itu jauh lebih baik, jauh lebih lega. Daripada lari ke es krim. Saya gampang jerawatan soalnya. *mulai ngelantur*

***

Pernahkah kamu kenal dengan orang baru, langsung jadi partner kerja, dan kamu sama sekali tidak tahu latar belakang dia, kecuali ya sebatas rekan kerja yang oke. Pernah?

Lalu tiba-tiba kamu disadarkan bukan oleh bisik-bisik orang lain. Tapi kamu sendiri yang tiba-tiba mudah sekali merangkai kejadian demi kejadian. Begitu fragmennya terkumpul, tanpa perlu disusun rapi, kamu menemukan ‘kebodohan’ diri sendiri. “Ternyata, orang yang selama ini jadi partnerku itu orang besar, cukup terkenal, bahkan cenderung jadi tokoh di kalangan anak muda, dan fans-nya banyak!”

What the &^%$##@!

Jadi ya, begitu.
Saya manggut-manggut selama sadar kalau di sekeliling saya, di sebuah wilayah bernama negeri bidak itu memang isinya pion-pion yang terampil memenangkan pertarungan. Kenapa baru ngeh sekarang sih?

Kalau sudah begini jadinya, saya bersyukur saja. Dikelilingi orang-orang hebat, orang-orang besar, ya semoga jadi doa juga kelak saya bisa jadi orang besar: besar wawasan, besar jiwa terhadap pemberian, besar hati pada penerimaan, besar lingkaran pertemanan, besar rizki, besar karya yang ditelurkan, dan besar manfaat yang dihasilkan.

IMG20150818122656Salah satu momen sadar itu di tempat ini. Di lapak paling pojok, sambil menunggu waktu. Masih berdasarkan potongan fragmen yang saya temukan dari salah satu orang keren –yang jadi partner saya di sebuah lingkungan kerja– dia bilang kurang lebih begini; Indonesia masih harus menyisihkan ideologi bersama yang sering didoktrin di mana-mana, yaitu “selow aja”. Sebab Negara-negara Eropa mengusung work-life balance, lantas kita latah? Indonesia, kan, seringnya begitu.

Nah, sayangnya, kita tidak bisa, ehm, lebih tepatnya jangan dulu seperti slogan Negara Barat itu. Nanti dulu. Mereka teriakkan itu ya karena sebelumnya sudah ‘work‘ mati-matian. Hasilnya juga sudah ada, kelihatan, bisa dirasakan, bisa disentuh, ada pengaruh. Terus, Indonesia apa kabar? bagaimana? sudah sampai mana?

Bolehlah sesekali santai, hore-hore, kalau perlu tertawa sampai muntab. Tapi setelahnya, mari rapikan kembali bantal guling selimut pada tempatnya. Sikat gigi, mandi, ambil kemeja, setrika rapi, lalu kenakan. Bersiaplah menyambangi permulaan hari dengan kerja keras. Tuntaskan apa yang sudah dimulai oleh Bung Tomo, Buya Hamka, Sutan Sjahrir, Ki Hajar Dewantara, Bung Hatta, Bung Karno, dan banyak lagi orang keren yang tidak pernah disebut keren justru karena murni keren dan kerennya memang keterlaluan.

Jangan dulu umbar-umbar “selow aja”. Indonesia belum bisa dibegitukan. Nanti keterlaluan “selow”-nya. Bisa-bisa lupa kalau perkara air bersih saja, Ibukota masih terseok-seok. Dipikir air mandi yang selama ini diguyur ke seluruh badan itu betul-betul murni dan segar? Ya terserah saja kalau menurut si Anu segar. Menurut saya sih, masih jauh lebih segar air waktu saya mandi di Desa Simpang, Kecamatan Cikajang, Garut. Itu lho, Desa kecil yang kalau mau sampai sana harus ngepot kanan-kiri, siap-siap dibikin pusing menumpang monster. Sial, jalannya sudah seperti monster betulan! Ngeri.

***

Maksud saya begini,
Pertama, minta kesadaran itu datang terus selagi muda. Kesadaran berilmu, kesadaran dalam memahami sesuatu. Caranya? Ya berdoa. Pasti dikasih, yakin. Kedua, kerja keras. Selow-nya jangan terus-terusan. Barangkali maksudnya kerja tanpa ngoyo, kerja tanpa ambisi berapi-api. Bolehlah. Tapi lakukan konsisten. Jangan kebanyakan selow. Gitu.

#NTMS banget ini. Kalau saya malu dan memilih untuk tidak menulis di sini, barangkali saya akan lupa, tidak terpacu semangatnya. Oke, semoga saya tak perlu menunggu tua untuk memahami kebijaksanaan hidup, ilmu-ilmu Allah yang luas, dan bagaimana work-life balance bekerja pada Negeri Bidak -dimana saya akan jadi salah satu pionnya, insyaaAllah-

Boleh jadi Allah akan pahamkan kearifan hidup yang biasa tiba pada usia 40-an, menjadi datang lebih awal pada jenjang muda karena hal-hal tak terduga, manis, dan tentu istimewa. Yah, kali aja kan… 🙂

masihedisi17Agustus
18 Agustus 2015
23:13 WIB | 11:13 pm

Advertisements

7 comments

  1. nanti, orang2 di sekitarmu mungkin akan merasakan seperti itu.
    mereka gak sadar tengah berhadapan dg sekarsekar si orang keren. 😀

    1. waaaks! haduu haduu haha, jadi malu. Tapi aamiin Ya Allah. Semoga beneran jadi orang keren dunia akhirat. :p *nggakbolehgombalyateh*

      1. ahaha.. sopo sing nggombal. ngmg yg baik2 aja.. biar jadi doa 😀

  2. sering banget. kirain orang biasa gak taunya dia…. sesuatu hehe

    1. iya, betapa orang keren di dunia ini ternyata banyak banget. Nggak cukup kalo diberitain di tv

  3. Banyak orang keren yg pembawaannya biasa aja, padahal dia hebat.

    1. iya, dan kita nggak ngeh ketika orang hebat itu ada di samping

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: