Rumah Tradisional dan Lahirnya Integritas Moral

Berikut saya cantumkan naskah esai saya yang sempat disinggung di postingan ini. Sebuah naskah yang saya selesaikan mepet deadline (dini hari), mata sudah goyang dombret, leher goyang patah-patah, kepala nyut-nyutan menahan godaan bantal buluk di samping saya sewaktu menulis ini. Setelah beberapa hari kemudian saya cek lagi diksinya, struktur kalimat, tata bahasa, betapa hancur hatiku~~ kok ya tulisan saya juga ikutan goyang ya? Ancur, bro. Tapi bersyukur, Allah jawab doa saya. Doa apa saya? cek aja postingan sebelum ini. Jadi maaf kalau ada kalimat yang kurang enak dibaca. *udah stop* *muqaddimah kepanjangan*

Semoga menggugah kepedulian kita terhadap kearifan lokal. Selamat membaca 🙂

***

Kebersamaan dan sistem sosial yang mengacu pada adat-istiadat suku bangsa, menjadi prinsip berdirinya sebuah bangunan tradisional. Rumah tradisional sebagai bentuk karya arsitektur khas yang didirikan oleh masyarakat, merupakan perwujudan dari budaya dan tata kehidupan yang lahir dan berkembang dari tata nilai yang tumbuh dalam masyarakat lokal. Hal ini menyebabkan rumah tradisional seringkali menjadi representasi dari suatu suku bangsa dan memiliki peran yang besar dalam masyarakatnya.

Distorsi Warisan Budaya Daerah
Bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang berkarakter dan mengenal jati dirinya, sebagaimana manusia mengenal dirinya sendiri. Pemahaman terhadap jati diri akan mendarah daging, sebagaimana pengertian mendalam terhadap karakteristik yang membersamai kumpulan sifat dalam diri suatu bangsa beserta seluruh penghuninya. Masalah yang kemudian muncul adalah nilai-nilai kebangsaan yang terdistorsi oleh adanya gaya baru yang dikenal dengan sebutan modern. Hingga di kemudian hari, orang-orang akan sibuk berlomba mempercantik tampilan demi unsur kebaruan, gaya, trend setter, dan berujung pada modernitas sebagai tujuan, ketimbang menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan karakter Indonesia yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Sebagian besar gaya modern, mengadopsi nilai-nilai kepraktisan dan sering kali justru mengacu pada budaya luar. Hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan masyarakat dianggap plin-plan karena memperturuti arus gaya hidup orang luar, dan pasrah saat terseret gelombang pasang modernitas yang menenggelamkan jati diri Indonesia, sekaligus membunuh secara perlahan.

Mengenal Indonesia, Mengenal Rumah dan Pemiliknya
Rumah menjadi cermin utama ketika seseorang bertamu, mengenal siapa pemilik rumah dan bagaimana sifat/sikap sang pemilik. Rumah menjadi sebuah bangunan bersejarah yang akan sangat mudah ditemui dan dinikmati kebersahajaannya, ketika ia dibangun bukan hanya sebagai penyejuk mata. Namun, rumah yang ketika dibangun, ia menjadi representasi karakter pemiliknya. Sederhana, bersahaja, teduh, hangat, damai, dan ramah lingkungan.

Begitulah seharusnya Indonesia menjaga nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh nenek moyang. Representasi jati diri bangsa, karakter, dan kebiasaan masyarakatnya dalam berkehidupan, tidak hanya tercermin pada adat istiadat maupun norma yang bentuknya lisan (turun-temurun) dan tertulis. Namun, haruslah tervisualisasikan dengan baik pada sesuatu yang mampu dilihat, disentuh, dan dirasakan sekaligus. Bangunan bernama Rumah Tradisional menjadi bentuk representasi yang tepat dan sangat bernilai.

Arsitektur Rumah Tradisional
Rumah tradisional merupakan rumah yang dibangun dengan cara yang sama dari generasi ke generasi. Perubahan yang terjadi tidak banyak, justru sangat sedikit dan tanpa atau sedikit sekali mengalami perubahan. Rumah tradisional dapat juga dikatakan sebagai rumah yang dibangun dengan memperhatikan kegunaan, serta fungsi sosial dan arti budaya dibalik corak atau gaya bangunan. Penilaian kategori rumah tradisonal dapat juga dilihat dari kebiasaan-keabiasaan masyarakat ketika rumah tersebut didirikan misalnya seperti untuk upacara adat.

Rumah tradisonal ialah ungkapan bentuk rumah karya manusia yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang tumbuh atau berkembang bersamaan dengan tumbuh kembangnya kebudayaan dalam masyarakat. Ragam hias arsitektur pada rumah tradisional merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Rumah tradisonal merupakan komponen penting dari unsur fisik cerminan budaya dan kecenderungan sifat budaya yang terbentuk dari tradisi dalam masyarakat.

Rumah tradisional ialah sebagai hasil karya seni para aksitektur tradisional. Melalui rumah tradisonal, masyarakat dapat melambangkan cara hidup, ekonomi, karakter diri, suku, adat istiadat, norma masyarakat, dan lain-lain. Di Indonesia, setiap daerah mempunyai rumah tradisional yang beragam karena beragamnya budaya dalam setiap daerah. Keaneka-ragaman budaya Indonesia membuat setiap penduduknya merasa bangga akan hasil karya para leluhur yang begitu memesona, dan bernilai tinggi. Secara sejarah maupun budaya, sudah sepatutnya masyarakat bangga dan ikut melestarikan kebiasaan yang baik, yang telah berjalan sebelumnya, agar tidak mudah mengikuti arus global, dan tetap teguh pada karakter diri bangsa Indonesia.

Desain Bangunan dan Isu Global
Sebenarnya Indonesia memiliki nenek moyang yang sangat ‘jenius’. Sebelum kompas ditemukan, nenek moyang kita telah pandai berlayar di samudera dan memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar navigasi melalui letak rasi-rasi di pekatnya langit malam. Bahkan kini, ketika kampanye Teknologi Ramah Lingkungan bergema dimana-mana, sedari dulu tanpa disadari nenek moyang kita telah menjadi arsitek-arsitek andal yang membangun rumah-rumah dengan konsep Teknologi Ramah Lingkungan. Sedangkan di luar negeri, konsep Green Building mungkin baru beberapa tahun belakangan ini diterapkan di Eropa atau Amerika.

Tentu saja banyak sekali bukti-bukti kejeniusan leluhur kita. Bertebaran dari Sumatra hingga Papua, dari Jawa sampai ke Kalimantan sana. Salah satu contoh yang dapat kita lihat adalah arsitektur atau bentuk dari rumah- rumah adat berbagai etnis di Indonesia. Rata-rata permukaan dari rumah-rumah adat tersebut lebih tinggi daripada permukaan tanah. Tingginya pun bervariasi, ada yang hanya 50 sentimeter sampai 2 meter pun ada. Ada yang disangga batu ataupun bambu-bambu yang panjang, yang jelas permukaan alas rumah harus lebih tinggi dari permukaan tanah.

Membangun Rumah, Membangun Generasi
Anak-anak bangsa lahir dari rumah-rumah yang di dalamnya dinaungi oleh kehangatan kasih sayang serta nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang telah mendarah daging secara turun-temurun. Rumah tidak hanya dibangun sebagai tempat bernaung dari panas dan hujan, tapi juga digunakan sebagai tempat beribadah, dan mendidik para anggota keluarga di dalamnya, sebelum siap dilepas ke luas dan kerasnya dunia luar.

Rumah yang berdiri atas rasa hormat yang tinggi terhadap bangsa, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama, kejujuran, kewaspadaan terhadap kejahatan, maka akan menghasilkan penghuni yang memiliki unsur-unsur kebaikan tersebut. Rumah tradisional yang sangat beragam, yang ada pada setiap daerah di Indonesia, menjadi contoh unik dan antimainstream bagi seluruh masyarakat dunia. Rumah tradisional yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, telah melahirkan jutaan pemuda berkarakter, menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, mempertahankan jati diri dan karakter nasionalisme dalam jiwa mereka.

Generasi yang lahir dari perjuangan, kerja keras, dan cinta alam. Di tangan mereka lah, bahtera Indonesia akan dibawa mengarungi derasnya arus modernisasi. Generasi yang para pemudanya akan diuji, sejauh apa mereka sanggup mempertahankan karakter dan nilai-nilai kehidupan, ketika dihadapkan pada masa depan yang semakin menggilas habis keberadaan rahim-rahim, tempat dimana mereka lahir dan dibesarkan bersama kemurnian budaya yang telah mendarah daging.

Meskipun budaya Indonesia banyak dikagumi oleh bangsa-bangsa lain, namun sungguh ironis sekali karena banyak generasi muda-mudi Indonesia pada jaman sekarang yang kurang memperdulikan atau kurang tertarik dengan keaneka-ragaman budaya yang ada di seluruh pelosok Indonesia. Padahal apabila budaya Indonesia terus dilestarikan, bukan tak mungkin itu malah mendatangkan devisa bagi masyarakat setempat.

Ilustrasi Rumah Tradisonal Toraja (pinterest.com)

Ilustrasi Rumah Tradisonal Toraja (pinterest.com)

Mari kita jaga dan lestarikan rumah adat nusantara ini. Nenek moyang kita membangun dengan karakter dari setiap daerah dan akan lebih tahan terhadap segala perubahan di daerahnya masing masing termasuk rumah sehat.

***

*Tulisan ini masuk ke dalam 50 besar esai terpilih, Lomba Esai Budaya Damai 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/blog/2015/05/08/lomba-komik-dan-esai-budaya-damai-2015/
http://www.indonesiaberkarakter.id/html/

moodboster! 😀
Selasa, 25 Agustus 2015
7:52 am

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: