Dari Komunitas Sampai Sosialita

Akhirnyaaaaa! Saya dapat satu novel yang jadi bacaannya penulis favorit saya. Buku ini susah betul dicari. Selain sudah cukup lama diterbitkan (Juli 2004), tidak cetak ulang, dan jenis kertasnya warna putih, bukan book paper seperti sekarang. Jadi makin terasa nilai ‘langka’-nya. Beruntungnya sayaaa, Alhamdulillah!

Tapi kali ini saya bukan mau membahas buku tersebut, karena belum selesai dibaca. Saya mau cerita-cerita saja sekarang. Tentang komunitas, grup, kelompok, perkumpulan, faction, atau apalah namanya. Layaknya saya sekarang yang bergabung di beberapa komunitas dengan passion sama. Lalu hubungannya dengan Harafisy apa?

***

Kalaaap!
Saya gabung ke beberapa klub yang punya hobi sama. Jadilah saya makin doyan belanja. Itu bisa jadi jelek, bisa jadi bagus. Kalau saya, mungkin yang jeleknya. Ya gimana dong, seringnya kalap daripada pakai perhitungan. Jadi, kudu hati-hati. Kenapa saya bisa begitu? Karena saya mulai tahu buku-buku apa saja yang bagus. Makin gencar juga jurus kepo terhadap sesuatu. Jadi semacam minyak, komunitas bisa menyulut api candu terhadap apa yang disuka.

Buku pertama yang saya beli akibat pengaruh komunitas adalah The Man Who Loved Book Too Much. Sebelumnya, saya tahu buku bagus dari hasil berselancar semalam suntuk, membaca koran, artikel online, diskusi teman, dan tentu kepo bacaannya penulis favorit saya. #FansGarisKeras.

Tergantung jenis komunitas, seperti yang saya ikuti misalnya. Blogger Buku Indonesia salah satunya. Saya harus hati-hati menahan nafsu belanja. Kami seperti punya slogan : #DietBukuItuHanyaMitos

Sastra Klasik
Harafisy ini salah satu sastra klasik yang dulu tidak sempat terpikir juga akan saya dapatkan dengan (Alhamdulillah) mudah. Pasar bisnis buku, kata teman saya yang anak ekonomi, tidak prospek dan konsumennya terbatas. Iya juga sih. Tapi kalau sudah ketemu orang-orang yang doyan, keuntungannya lumayan. Eh, bukan lumayan lagi ya. Sama lah kayak bisnis lain pada umumnya. Omzet dan profitnya besar.

Contohnya, toko buku online yang jual Harafisy ini. Dia mulai buka toko buku dari tahun 2005. Bisa bertahan sampai sekarang, tentu bisnis ini punya efek bagus. Yah, cuma saya-nya aja yang belum paham gimana caranya bisnis oke. Saya bertekad untuk buka toko buku, online maupun offline. Sekarang masih tahap cari referensi. Doakan ya, semoga bisnis yang berawal dari hobi ini memang jalan saya untuk bisa berdagang.

Gara-gara komunitas juga, cakrawala saya tentang sastra klasik jadi makin luas! 🙂

Yang Seru dari Pencarian Harafisy
Saya dapat Harafisy, bukan dari stok yang memang disiapkan untuk dijual. Tapi dari PERPUSTAKAAN PRIBADI si penjual! Wkwkwk. Sebelumnya saya pesan serial Laura Ingalls Wilder dan Roger Lea MacBride ke (sebut saja Toko A) dengan harga ramah lingkungan (baca: murah). Lalu saya sempat protes kenapa tulisan cover buku serialnya nggak nongol. Ini kan tanda-tanda buku palsu. Mana potongan sampulnya miring pula. Sudahlah saya trauma beli di situ lagi. Saya sms lah itu penjualnya. Dia menjelaskan panjang lebar (dan itu sms balasannya cepat sekali loh) kalau dapat stok bukunya dari gudang gramedia langsung, dsb…dsb… Karena merasa belum yakin, saya tanya lah ke grup BBI, apakah ada buku asli yang judul covernya nggak timbul? Kata mereka, ada. Itu salah satu cara untuk hemat ongkos cetak. Nah, inilah salah satu keuntungan komunitas. Glek, btw, saya sudah terlanjur suudzon dong sama si Abang.

Setelah si Abang Penjual sempat bilang kalau saya jangan kapok lagi beli di toko buku dia, akhirnya demi menjaga perasaan si Abang, saya coba sms lagi, pesan beberapa buku. Sambil kirim sms, saya nggak berharap banyak kalau pesanan saya itu akan ada stok. Boro-boro ada stok, cari di toko buku bekas pun pasti susah ketemu. Daftar buku yang saya PO: Pemikiran Keagamaan dalam Islam (IQBAL), Samarkand (Amin Maalouf), Harafisy (Naguib Mahfouz), A Thousand Splendid Sun (Khaled Hosseini), dan Gila Baca Ala Ulama.

Lalu sama seperti sebelumnya, dengan cepat si Abang merespon kalau dua buku yang saya cari ada! Harafisy dan Splendid Sun (2 stok). “Tapi, Harafisy itu punya saya. Nanti saya cek dulu ya, masih ada atau udah dibeli orang.” Jawab si Abang. Yes! kalau nggak ingat lagi duduk di tangga kampus, sudah teriak-teriak bahagia saya. Dia sempat mikir mau dijual berapa Harafisy waktu saya tanya “serius itu mau dijual mas? Jual berapa?”

Singkat cerita, saya dapat bukunya. Nah, nanti saya mau cerita juga soal Splendid Sun itu yang sama-sama susaahnya puooooooolll dicari di mana-mana. Toko buku bekas macam basement blok M pun susah loh cari buku keduanya Khaled Hosseini itu. Seru deh. 😀

Saya bisa jadi sosialita kalo gini caranya, belanja terus tiap nemu yang bagus. heuu… -__-

harafisyTunggu resensinya di http://www.perpustakaansekar.wordpress.com yaa! 😀

masih ada booklist selanjutnya
Bogor; Kamis, 27 Agustus 2015
10:58 pm | 22:58 WIB

Advertisements

5 comments

  1. Wow membaca buku itu hobi yg sangat keren loh. Sayangnya aku udah nggak hobi lagi membaca buku. Cm baca blog aja skrg.

    1. aduh, aku dibilang keren sama seleblog macam mbak tika ini. Jadi malu 😀

      1. Ah dek sekar. Jgn sebut saya seleblog dong. Malu sama yg seleblog beneran, bhahahahak

  2. baru tau buku ini, bagus ya kalau sampai dicari2 🙂

    1. iya mbak, kayaknya mulai masuk kategori langka

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: