Membiasakan Pekerjaan Berpikir #1

Satu pekan belakangan ini saya sedang bolak-balik membaca dua majalah dari INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization). Isinya tentang perbedaan isu pendidikan Islam dan sekuler beserta kajiannya dari sudut pandang ulama pada awal sejarah hingga kontemporer. Saya pikir, semua anak muda harus kritis terhadap isu macam itu, terlebih calon orang tua. Alangkah baiknya jika alarm kewaspadaan dinyalakan sejak usia muda. Biarlah letih sekarang, kalau di masa depan anak-anak kita selamat dunia akhirat.

Dua majalah itu sudah saya punyai sejak lama sebetulnya. Cukup tebal juga tiap majalahnya. Berhubung isinya tidak pernah membosankan untuk dikaji (tak cuma dibaca) dan direnungkan, topiknya selalu saja relevan dengan yang terjadi dalam kurun waktu… berapa ya, mungkin 10 tahun terakhir. Bahkan saya pikir, topiknya akan terus cocok dengan seluruh lapisan zaman.

Manajemen Kepala

huffingtonpostcom1

Inspirational idea

Sengaja saya ambil judul postingan kali ini dari Lembaga Hidup karya Hamka. Kenapa? karena Hamka menawarkan lima solusi untuk mendidik jiwa manusia, salah satunya yaitu membiasakan kepala untuk bekerja. Pekerjaan itu berupa kajian keilmuan. Otak perlu diasah setiap hari agar kesehatan jiwa dapat terjaga, karena jika otak dibiarkan menganggur berpikir maka akan tertimpa sakit dan mengalami kebingungan. Otak yang malas berpikir juga akan menyebabkan kedunguan. Kekuatan berpikir harus dilatih sejak kecil, karena orang yang kuat berpikirlah yang dapat menghasilkan nikmat.

Berpikir juga dekat dengan pengalaman. Seorang pemikir yang berpengalaman, bisa mengambil kesimpulan dari suatu perkara dengan cepat, padahal orang lain menganggap perkara itu besar dan sulit. Karena dengan pengalaman, dia sudah bisa mengerti sebab-akibat dari suatu perbuatan. Setelah menjadi ahli berpikir yang berpengalaman, tambah berseri jika dia berilmu. Seorang ahli ilmu tidak akan segan untuk menambah ilmu, sebab ilmu laksana lautan. Makin diselami, makin diemukan banyak hal yang belum pernah dilihat dan didengar sebelumnya.

Sulit ya rasanya mengatur kepala ini tetap ‘ON’ padahal disaat yang sama, ada pekerjaan lain yang numpuk, menguras waktu, tenaga, uang, dan seterusnya. Tapi kalau boleh saya bilang, menjaga kepala tetap bekerja (maksudnya terus diasupi ilmu) menjadi wajib hukumnya. Kita hidup, salah satunya untuk punya keturunan, kan?. Jangan sampai kita tertinggal rombongan, sendiri, lalu mati dalam keadaan tak berilmu. Kecuali kalau hidup kita cuma untuk diri sendiri, itu pilihan. 🙂

421980_3081205582585_538820354_nDiskusi kepenulisan bersama Sakti Wibowo: sebagai ilustrasi proses menghidupkan kepala (berpikir)
dengan membangun kelompok diskusi

Transformasi Ilmu

Namanya adab atau akhlaq, yaitu hasil/produk dari proses transformasi ilmu melalui pengajaran dan peningkatan kapasitas kualitas diri dengan pendidikan. Kenapa bisa begitu hasilnya?

Bagi muslim, hubungan ilmu dengan Allah berbanding lurus. Sebab Allah Maha Berilmu, maka manusia diajari agar minta ditambahkan ilmunya: “Ya Allah tambahkanlah ilmuku” (QS 20:11). Alquran menjadi sumber ilmu pengetahuan, pusat pembelajaran secara integral mengenai apa saja. Dr. Hamid Zarkasyi menulis artikel panjang mengenai hakikat ilmu yang kurang lebih menjelaskan kaitannya dengan keimanan. Apa yang diajarkan adalah “ilm”, yang mengajar disebut mu’allim, dan produk dari pengajaran adalah seorang yang “aalim” artinya yang memiliki ilm. Allah sendiri bahkan memiliki sifat Al-Alim atau Maha Mengetahui. Hal ini menunjukkan bahwa medan makna “ilm” dalam Islam berkaitan dengan keimanan kepada Tuhan, amal dan akhlaq.

ibu-dan-anak-belajar-menulis-250x205Maka, tujuan pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada penguasaan bidang keilmuan tertentu. Namun, ada tujuan yang lebih tinggi, lebih agung, lebih diutamakan dari nilai-nilai yang tertera pada selembar kertas ketika prosesi kelulusan. Pendidikan apapun bentuknya, haruslah menghasilkan manusia yang sempurna akal, jiwa, dan aspek-aspek sosial. Singkatnya, sekolah dimanapun, belajar ilmu apapun, dan menjadi apapun manusia di masa depan, haruslah menjadi manusia dengan keimanan penuh, ibadah total, dan akhlaq yang cemerlang.

IMG20150922234126Majalah Islamia dengan topik yang harus terus dibaca, dikaji, dan didiskusikan

Bisa?
Pasti bisa lah, insyaaAllah.
Tinggal tanya diri sendiri, sudah sejauh mana tekad dan usaha? 🙂

#notetomyself

bagian 1
Selasa, 22 September 2015
9:40 pm | 21:40 WIB

Advertisements

6 comments

  1. Itu diskusi dmn sm sakti wibowo?
    Apa kbr dia ya skrg? Lama g dgr buku barunya *mksdnya titin yg g apdet :d

    1. Di ragunan, teh. Kabar terakhir yang aku denger tahun 2012 (udah lama banget yak) beliau sakit, rumahnya kemalingan, pokoknya lagi diuji banget. Setelah itu lose contact 😦

      1. innalillahi.. 😦

        dulu suka bgt sama cerpen2 nya yg nggegirisi ati ituh 😀

        1. betooool! Tapi insyaaAllah beliau masih produktif nulis. Cuma aku-nya yang nggak update, hehe

  2. Aku tertarik sekali dengan bahasannya. Selama ini kita cenderung memisahkan ilmu dan agama. Padahal menuntut ilmu itu bukan untuk tujuan duniawi saja, ya, Mbak.

    Ngomong-ngomong aku penasaran dengan majalah Islamia itu. Cara mendapatkannya bagaimana, Mbak? Apa terdistribusi luas di seluruh Indonesia?

    1. Betul. Yang kita sering lupa, pertanggungjawaban di hari akhir nanti bukan cuma sebatas amal, ibadah, berbuat baik-buruk, dan semacamnya. Tapi ilmu yang kita peroleh, digunakan untuk apa ilmu tersebut, itu juga akan ditanyakan.

      Buat majalahnya, nanti kuposting di tulisan lanjutannya ya Mbak. Aku fotoin daftar agennya insyaaAllah. 🙂

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: