3 Waktu Ajaib Bagi Golongan Ini

Siapakah dia?
Namanya shadow job, sering disuuzonin orang-orang kalau dia lebih suka mager (males gerak) di rumah persis pingitan calon pengantin yang mana anak presiden-sedang masuk DPO teroris, nggak bisa keluar siang, sekalinya keluar dan kena sinar matahari langsung mati.*efek beberapa kali nonton film dan drama vampir* bleh!

Dialah penulis.
Kerjaan yang nggak jelas kapan hidup-mati (baca: bangun-molor), saking identiknya sama individualis, rumahan, duduk depan laptop, nyaris bisa disebut makhluk nocturnal, ansos, wilayah jangkauan sehari-hari yaitu kamar-dapur-wc, sering mengeluh sakit pinggang atau punggung, punya ciri khusus yaitu mata panda, pakaian casual-fashionable (baca: berantakan, mirip jemuran berjalan).

Kok jelek banget ya? Padahal, sesungguhnya nggak gitu-gitu amat. Itu anggapan ekstrim yang ada di pikiran saya sih. Ibarat games addict yang bisa berhari-hari begadang depan pc. Tapi kenyataan yang saya dapat dari beberapa teman penulis, termasuk saya sendiri ketika sempat jadi editor freelance yang kerjanya cukup di depan laptop, memang sering dikira nggak kerja. Berhubung saya masih mahasiswa, nggak nyesek-nyesek amat sih denger yang begitu, hehe. Tapi kemudian saya agak was-was juga kalau suatu hari saya mengalami hal itu.

Jawabannya, saya harus sering piknik. Sederhana.

FYI, pekerjaan penulis nggak horor begitu. Justru satu jenis pekerjaan yang sungguh mulia, menjanjikan, banyak pahala, keren pokoknya. Kebetulan aja yang punya blog ini sekaligus yang nulisnya agak mendrama. Efek kebanyakan download film, meskipun entah nontonnya kapan. Takut sekalinya nonton, keterusan, dan lupa hidup. *Lah*

Kembali ke topik.

Waktu Ajaib
Sesuai ide selintas yang kebetulan lewat waktu saya posting tulisan setan. Sekarang saatnya memenuhi janji pada diri sendiri. Hanya untuk posting tulisan di blog aja saya harus gelut sama diri sendiri. Boleh juga ini disebut tips atau sekadar informasi bagi siapapun yang tak hanya butuh waktu tenang dan damai untuk menulis. Namun juga bagi jenis pekerjaan apapun yang perlu waktu jeda, meski cuma untuk meluruskan kaki.

Saya akan bagi beberapa waktu yang menurut mayoritas penulis, inilah saat-saat terbaik untuk menyusun kalimat, mengubah energi menjadi materi. Menit-menit paling syahdu dimana para penulis menemukan momen eureka di sepanjang jarum jam berdentang–tak hanya sesaat, tapi boleh jadi berjam-jam lamanya–untuk kemudian paragraf-paragraf itu bisa dinikmati orang lain.

1.Pukul 20.00-00.00 (malam)
Ada yang menggunakan waktu ini untuk menulis dan membaca buku sebelum tidur. Saya termasuk yang sering mengerjakan apapun pada waktu ini. Isi kepala sudah di ambang batas setelah seharian penuh mengerjakan ini itu, bertemu si A dan B, dan sebagainya. Sekarang tinggal ditumpahkan isi kepalanya jadi huruf-huruf, lalu cari di antara mereka, mana hikmah hari ini.

Nah, waktu ini bisa jadi pilihan bagi kita yang sulit bangun tengah malam atau bangun sebelum subuh. Biasanya para penulis yang memilih waktu malam sebagai jam ‘kerja’nya, selalu merasa kalau belum menghasilkan minimal 1 tulisan, belum ada ilmu yang dipelajari dari buku pada hari itu, belum afdhol. Belum tuntas, belum tenang, karena seharian sudah sibuk bekerja. Tentu bukan cuma fisik yang butuh asupan. Kepala juga. Kalau nggak nulis, minimal baca buku. Mulai menulisnya bisa setelah shalat isya, supaya dapat ilham.

Scientifically-Best-Way-To-Studyhttp://blog.suny.edu/2013/12/scientifically-the-best-ways-to-prepare-for-final-exams/

2. Pukul 02.00-04.00 (menjelang subuh)
Bagi penulis yang memilih waktu ini tentu tubuhnya akan terasa lebih segar, kepala lebih jernih karena sudah diistirahatkan, dan hati lebih tenang karena disaat orang-orang masih pulas, dia bisa menyiapkan aktivitas untuk hari itu lebih awal. Ide-ide akan bermunculan, menderas, banjir, lalu jari-jari lincah mengetik sampai tak terasa masuk waktu subuh.

Oke banget nih pilihan waktu ini. Bisa sekalian sholat malam sebelum nulis. Biar lebih berkah, lebih dimudahkan prosesnya. Para penulis yang bekerja pada pukul 02.00 sampai 04.00 biasanya sudah terlalu letih untuk berpikir dan menulis pada waktu malam hari. *Hidup ini memang melelahkan, Pak Buk!
481289_晚空3. Pukul 05.30-10.00 (pagi)
Waktu pagi sampai menjelang siang juga asik nih. Sambil menikmati udara segar, ngupi-ngupi atau ngeteh-ngeteh, cuci mata dengan pemandangan alam yang masih bersih, sebelum beberapa jam kemudian berkabut asap knalpot, bising mesin kendaraan, ribut suara orang berangkat cari uang, dan semua kehebohan pagi hari.

Sholat dhuha adalah jeda paling oke di antara pukul 05.30 sampai 10.00. Peregangan otot sebentar, supaya punggung-pinggang-leher-mata rileks. Cukup banyak titik-titik rawan penyakit di tubuh seseorang dengan pekerjaan macam ini. Rawan buncit juga. Harus sering-sering olah raga. Beberapa penulis juga menggunakan waktu ini untuk olah raga sebelum menulis, atau sebaliknya.

IMG20150804080353menulis di perpustakaan kampus tepat setelah tulisan “tutup” dibalik jadi “buka”
dan petugasnya baru selesai nyapu ruangan :p

***

Kok nggak ada waktu siang?
Soalnya waktu itu saya anggap sebagai waktu klimaks rasa capek, pusing, puncaknya manusia merasakan betapa kerasnya hidup ini demi sesuap nasi. Jadi kepala udah spaning duluan. Boro-boro ide nulis, ini kepala justru lagi sibuk nyari ide mau makan siang pake lauk apa, harga berapa, di warteg mana. Ya kan? Ya kan? *woy mahasiswa!*

Bukan berarti nggak ada sama sekali penulis yang menulis di siang hari. Tentu ada, banyak. Ini golongan waktu berdasarkan subjektivitas saya aja sesungguhnya. Berdasarkan yang saya amati dari kawan-kawan saya yang penulis.

Barangkali ada yang punya waktu nulis lain selain 3 waktu di atas?

kejar-kejaran antara blog vs draftnovel vs lomba vs revisi T_T
Selasa, 6 Oktober 2015
10:20 PM | 22.20 WIB

Advertisements

10 comments

  1. Yang kedua itu, jam produktifku waktu puasa kemarin. Secara malam saat summer sgt pendek, jadi ngga pernah tidur tiap malam. Tapi sekarang udah normal… tentang kapan waktunya nulis, biasanya tergantung kapan ide itu muncul, saat ide muncul aku mulai nulis, kl ngga ya molor. 🙂

    1. Molor? nggak mungkin. Mas Parmanto pasti hobinya belajar terus, menginspirasi sepanjang hari sampek mimisan. Biasanya, penulis yang mentok (writers block) obatnya kalo nggak piknik, ya baca buku. Kalo saya, naah baru itu bener molor. 😀

  2. Aku sih jam 21.00 ampe tengah malem… efek suka ngerjain tugas kampus ampe malem jd keterusan ga bs tidur klo belum jam 12. Jd hewan nokturnal deh. Paling ideal mnrtku sih jam 02.00 ampe jam 04.00 tp atuh gmn org aku br tidur jam 00.00 hahaha

    Asik lah y sekar banyak projectnya gt semoga semua targetnya tercapai aaamiiin

    1. Aamiin!!! doa yang sama buatmu, semoga Allah beri apa yang kamu minta dengan cara dan pada waktu terbaik 🙂

      Berarti kamu masuk kategori 1, Dit. Haha. Kalo udah kebiasaan emang susah ya. Balik lagi ke kesanggupan masing-masing penulis. Tapi rata-rata mereka (yang udah konsisten nulis) biasanya ‘bekerja’ di antara 3 waktu itu. Sekarang masalahnya tinggal gimana supaya bisa konsisten. hehe

  3. Untuk yg kategori 2, sepertinya menarik, bisalah sekali wakut saya coba. 🙂

    1. memang biasa nulis di kategori waktu yang mana di antara 3 itu, Mas Diko? atau ada waktu lain?

      1. Sy masuk kategori 1, Mbak Sekar. Kadang juga habis subuh, tp lebih sering habis isya’

  4. Kalau aku sih waktu produktif buat nulis kapan ajah asalkan malam.

    1. kategori ke-1 ya berarti

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: