Demo, Yuk!

Ada era dimana idealisme berada di atas segalanya, di posisi puncak, paling prioritas dari apapun, termasuk kuliah. Idealisme soal prinsip, cara pandang, pola pikir, reaksi isu, tanggapan wacana, seolah-olah saklek, rasa-rasanya hidup nggak pernah bisa nyelow. Ada pelanggar aturan sedikit, dikritisi. Ada yang senggol kanan-kiri, diprotes keras. Saya tak bilang buruk. Tinggal masalah cara.

Saya juga dulu begitu. Soal urus KTP misalnya. Harusnya kan tak perlu bayar, gratis. Tapi ternyata tetap saja wajib keluar rupiah, setidak-tidaknya 10-15 ribu. Yang begini ini, sering muncul sikap reaktif dari mahasiswa. Biasanya yang aktivis untuk urusan macam ini. Ada lagi, waktu pemilihn rektor, saya lupa apa masalahnya, apa isu yang diangkat. Pokoknya itu terakhir kali saya ikut demo, kalau tak salah ingat. Di depan rektorat, pakai ikat kepala, lumayan kepanasan, rasanya kok saya keren sekali waktu itu.

306672_2984199943639_2041311259_nKalau diingat-ingat lagi sekarang, kadang saya geli sendiri. Pantas saja dulu kami, saya dan kawan-kawan mahasiswa, sering ditertawakan orang tua, dosen, polisi (walaupun sebetulnya polisi takut juga kalau mahasiswa sudah demo). Lucu, karena tugas sekolah saja belum selesai, masih sering merepotkan orang tua, masih bocah, kok ya sudah berani, sok-sokan melawan pemerintah, bergaya pede kalau yang tidak sesuai aturan itu akan dengan mudah dan cepat diperbaiki karena para mahasiswa sudah kumpul di jalanan. Tentu, demonya tanpa bakar ban, tanpa lempar-lempar, tanpa pukul-pukul, peace, love, and gaul.

Yah, kita juga tau kali, Pak Buk, kalau proses perbaikan itu pasti makan waktu. Tapi setidaknya kami sudah bersuara, mewakili suara jutaan rakyat yang tak punya kebebasan teriak-teriak pake TOA di depan gedung pejabat” kira-kira begitulah tanggapan kami yang paling sarkas.

Ini jujur-jujuran ya.
Saya kangen dengan broadcast aksi (a.k.a Demo) yang dulu sering jadi moodbooster. Lalu setelah briefing, mbak-mbak senior grasa-grusu menyiapkan konsumsi ala kadarnya. Saya dan konco-konco bernyanyi lagu andalan, lagu kebangsaan mahasiswa: totalitas perjuangan. Pulang-pulang, tinggal perut kami semua kelaparan. DSC_6225Foto demo rektor cuma yang paling atas. Foto kedua sampai bawah, beda judul lagi. Oh ya, satu lagi, yang agak lucu, mahasiswa lebih suka dengar kata “aksi” ketimbang “demo”. Katanya sih, lebih berkelas. Sesungguhnya, dua-duanya sama. Sama-sama turun ke jalan, nyiapin speaker dan mobil pick-up, lalu jargon, lalu orasi berapi-api, lalu keringetan, lalu setelah demo selesai, semua terkapar.

Demo Tagih Janji Jokowi Mahasiswa IPB Kepung Istana BogorSP1JKW-JKSP1JKW-JK_2Kapan lagi ya saya bisa demo kayak dulu?

revisi woy!
Rabu, 14 Oktober 2015
9:52 WIB

Advertisements

18 comments

  1. Demo masak aja klo skrg 🙂 tp personally aku berterima kasih pada mahasiswa yg tlah menyuarakan isi hati rakyat…..

    1. nah itu. sekarang orientasinya beda mbak, demo masak. 😀

  2. Baguslah, kalo mahasiswa sekarang masih suka aksi. Kirain tiarap sejak undangan makan siang Jokowi.

    1. jarak waktu yang jamuan makan itu dengan aksi 7ribu mahasiswa di depan kebun raya bogor dan senayan, lama banget mas. Nggak ngaruh sih menurutku. Sekarang mlempem lagi (kayaknya). Kejar-kejaran sama sks

  3. Saya malah takut kalo ada demo, mba hehe 🙂

    1. identik sama anarkis ya mbak rina. tapi mahasiswa kampusku enggak insyaaAllah hehe

      1. Iya mba sekar. Uda ngeri duluan hehe 🙂

  4. Aku gak pernah ikutan demo. Nonton demo masak aja yg sering

    1. nah aku mau kayak gitu sekarang mbak non haha

  5. Sebelum dan setelah aksi, dua proses yang selalu menarik buatku. Apa tujuan aksi dan berhasil tidaknya aksi tidak bisa dilihat pada saat aksi itu saja kan Mbak Aktivis? 😀

    1. (( mbak aktivis )) :”D

      jangan-jangan mas danu pernah ikut demo juga ya?

      1. Cuma lihat-lihat saja Mbak, aku mah apa atuh…

  6. Sebenernya mahasiswa yang sering demo itu bagus, dan saya salut. Tapi lebih baik lagi kalo mahasiswa2 tersebut juga berprestasi. Memang sih, kalo bukan mahasiswa, siapa lagi? Bagaimana pun juga harus kita hargai perjuangan mereka.

    1. banyak lhoo yang akademik oke, organisasi juga kece. cuma nggak kelihatan aja 🙂

  7. Bang Ical · · Reply

    Persoalan demonstrasi bukan sekedar unjuk rasa, tapi memihak pada sebuah kebenaran. Semangat 🙂

    Salam kenal dari Lombok. berkunjung ke blog kami yang sederhana ya 🙂

    https://bangicalku.wordpress.com/

    1. Salam kenal kembali, Bang Ical 🙂

      1. Bang Ical · · Reply

        Siap 😀

  8. fuadsauqii · · Reply

    Salam kenal^^
    Seorang kyai perna berkata, “meskipin dgn cara yg santun, saat demo ttep aja seperti ada keangkuhan yg ditunjukan”.

    Mhsiswa skrg udah gak kayak dulu lagi. Apatiss, kepekaan sosialnya dikit. Skrg aktivisi mulai hilang. Mhsiswa lebih fokus untuk wisuda lebih cepet dri pda bljar jd aktivis

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: