Cerita Si Kuli Tinta #2

Beberapa pekan lalu, seluruh anggota grup whatsapp blogger yang saya ikuti itu ditegur oleh salah satu masternya blog.

Beliau bilang,
Sebagai blogger (sebut nama grup) baiknya hindari membicarakan fee di media sosial, di depan publik. Jangan sampai nama kita (komunitas) jadi hancur di mata masyarakat hanya karena soal uang.. dst.

Redaksi tepatnya saya lupa. Kurang lebih begitulah pesan beliau kepada semua anggota grup yang memang sering dapat job dari menulis blog.

Uang dan Pembicaraan Tabu

newsthcom

newsth.com

Ada yang ditawari menulis sebuah produk dari satu perusahaan, lalu dia bicarakan soal fee di status medsos. Efeknya, pihak perusahaan itu jadi semacam ill feel dan komentar “penulis di situ tuh modelnya begitu ya?”

Duh, pertanyaan (atau pernyataan)-nya kok justru berubah jadi menegaskan kalau tujuan paling penting bukan marketing produk ya? tapi uang. Nominal uangnya berapa.

Kita jujur-jujuran ya.
Khususnya untuk yang punya pekerjaan sama seperti saya dan orang-orang yang mengandalkan blog, laptop, keyboard, dan otak untuk nulis. Betul kita butuh uang dan pasti itu jadi salah satu (dari sekian banyak) alasan menulis. Apalagi kalau ini hendak dijadikan pekerjaan mutlak, utama.

Kenapa harus malu, sembunyi wajah, tapi suara kencang bicara “menulis untuk keabadian, menyampaikan kebenaran, menulislah dengan jujur, menulis akan menjagamu tetap idealis meski hidup di tengah kondisi realis yang bisa mengikis prinsip, menulislah untuk akhirat… dst”

Bleh!
Soal itu, oke, baiknya di kesampingkan dulu. Kita bukan sedang bicara tentang visi yang bagian itu. Kita sedang jujur, bahwa penulis juga butuh uang. Dari mana? Ya dari tulisannya.

Saya cuma nggak mau terjebak dengan visi-misi yang “lurus” itu tapi sesungguhnya saya menafikkan seluruh tujuan baik yang sudah saya tekadkan sendiri, karena sebetulnya saya hanya sedang cari uang. Kan ini jahat banget, gitu. Semacam kebohongan publik.

Jadi Berkelas

businessplanuniversitycom

businessplanuniversity.com

Saya masih newbie soal dunia blog yang dikhususkan sebagai sebuah pekerjaan serius. 😀 Jadi ini murni curhat aja. Hehe

Saya cuma mau bilang, lebih berhati-hati dengan niat dan jari-jari ini yang modelnya sudah macam lidah; tajam tak bertulang. Tapi jari masih ada tulangnya sih.

Jangan salah. Jari-jari ini bisa membuat seorang penulis menjadi terhormat kaya raya, atau tiba-tiba amblas berantakan dan terhina. Pekerjaan sebagai penulis itu, selain kepala, kontrolnya juga ada di jari.

Maka, jadi penulis juga harus punya kelas. Kalau penulis yang cuma kejar uang, cenderung mudah terbawa arus. Tren nulisnya ke sini, dia ikut ke sini. Tren nulis ke situ, dia ikut ke situ. Padahal pada saat yang sama, dia masih belum tuntas dengan dirinya sendiri. Dia belum mendefinisikan makna menulis buat dirinya sendiri.

Kalau cuma untuk dapat uang, rasa puasnya terbatas pada nominal. Kalau besar senang, kalau kecil sedih. Lalu nanti mood nulisnya bubar jalan. Lah ini kan gawat. Idealisme tadi apa kabar?

Begini ini pentingnya hadist nawawi yang 40 itu paling pertama bicara soal niat, kemudian diikuti revisi setiap hari. Penempatan revisi niat yang rutin ini mulai kelihatan manfaatnya dalam sebuah pekerjaan, ya pas kejadian macam ini.

Ikat Prinsip, Fokus Tujuan

maguzzcom

maguzz.com

Di sepanjang perjalanan, kalau pengemudi lupa tujuan, pasti deh dia mampir ke sana sini karena nggak fokus. Ada pasar malam, berhenti. Ada tukang rujak, singgah sebentar. Ada mall, numpang ngadem dulu deh.

Bagi orang ini, mengistirahatkan kendaraan di pom bensin pun nggak akan pernah cukup. Selalu ingin ini itu yang sama sekali nggak berhubungan dengan tujuannya.

Bagian pentingnya di sini nih. Supaya penulis nggak goyah dengan permintaan tren yang sulit disaring. Zaman itu punya banyak kemauan, dari yang paling baik sampai yang paling buruk. Nggak mungkin kan kita mau nurutin semuanya?

Maka satu-satunya seatbelt yang bisa menjaga seorang penulis dari ancaman gagal fokus dan mampir-mampir, adalah prinsip.

Nah, kalau perkara prinsip ini sudah clear, maka dia bisa bantu kita untuk fokus. Duit tadi, itu sering bikin nggak fokus tuh. Prinsip yang udah dibangun capek-capek, pake proses panjang dari fase ababil sampai dewasa, eeh… tau-tau ancur mak byar karena alasan duit.

Okelah butuh duit. Tapi biarin yang pertama prinsip dulu, selanjutnya akan ada rizki yang mengikuti.

Udah segitu dulu curhatnya. Ini udah mulai pegel-pegel lagi.

blogger newbie
Rabu, 16 Desember 2015
11:24 PM

Advertisements

20 comments

  1. Wah mak jleb ini, selama ini tujuan saya ngeblog cuma bersenang2 dlm menyalurkan ide. Itu masuk prinsipil ngga mbak?

    1. kayaknya yang paling tau mas parman sendiri deh 😀 kalau bicara soal status penulis sebagai pekerjaan utama, tentu harus lebih dari sekadar bersenang-senang.

  2. Couldn’t agree more dengan semua yang kamu tulis diatas Sekar. Kalau hanya mengikuti tren tanpa riset, tulisan malah ga punya jiwa, ga berbicara. Menulis memang harus dari hati supaya apa yang akan disampaikan nyampe ke yang baca. Balik lagi, nulis tujuannya apa, sasaran pembacanya seperti apa, dan mantapkan hati dijalan yang sudah dipilih. Jadi ga terombang ambing kesana sini. Makanya beberapa kali blog kami dapat tawaran kerjasama dari company buat review produk mereka, aku tolak dulu. Bukan nolak rejeki, tapi tujuanku ga kesana, sesimpel itu.

    1. Betuuuuul mbak. Duh duh, mbak den udah makan asam garam nih. Kadang ada juga lho yang kayak mbak gitu (nolak job karena beda tujuan) trus malah dikatain sok idealis, jual mahal. Padahal kan maksudnya bukan itu 😦

  3. Sebenarnya para penulis yg dibayar untuk mempromosikan suatu produk, mereka tuh jujur gak sih dgn konten tulisannya? Apa ngarang aja, yg penting project selesai? Ini pertanyaan oot ya, maafkan 😦

    1. nggak oot kok mbak. Malah pertanyaannya bagus. Cuma tadi aku nanya dulu ke temen yang sering dapat job nulis promosi sebuah produk. Karena aku belum punya pengalaman soal ini.

      Ternyata ada banyak peluang untuk bohong, mbak tika. Asal duitnya udah nyampe (udah di transfer) ke tangan penulis, dan tulisannya jadi. Selesai urusan.

      Kalau tulisannya bagus dan berhasil menarik minat konsumen, ya bagus. Tapi kan kita nggak tau rizkinya berkah apa enggak :/

  4. NinaFajriah · · Reply

    Prinsipku nulis di blog adalah membuat konten yang berdampak positif atau yang bermanfaat bagi orang lain; either itu berbayar atau tidak. Kalaupun berbayar, aku memang tau atau pake produknya dan image perusahaannya harus baik. Itu saja 🙂

    1. setuju setujuu. suka agak risih dengan blog pribadi (bukan blog khusus jualan) yang isinya promosi produk semua. Meski bagus, tapi jadi agak gimanaa gitu. Kadang malah kurang rem, apa aja bisa dipromosikan :/

  5. Idem dgn mbak Nina Fajriah.

    Hiks… makasih reminder-nya ya darling 🙂

    1. sama-sama mbaak. buat ngingetin diri sendiri juga nih 🙂

  6. Tulisannya bagus, sekar. Setuju, prinsip memang utama. Kl tujuannya memang sbg pekerjaan dan cari uang, ya monggo. Tapi bermain cantik lah, jgn keliatan ‘matre’. Apalagi di sosmed. Giving is receiving. Kl tulisan qt jd inspirasi kebaikan, untukku pribadi, itu jg termasuk bayaran, dan bernilai lbh tinggi. *imho.

    1. Nah itu, main cantik. Sepakat banget mbak. Pernah nemu seorang penulis yang buku karya dia itu sampai bikin anak orang berubah drastis jadi semangat melakukan kebaikan. Ini kan indah banget :”) bahkan uang sama sekali nggak bisa menandingi.

  7. Do your passion and money will follow you. Terima kasih sudah mengingatkan, Sekar

    1. Sepakat. Terima kasih sudah mampir, Mas Koko

  8. Selama ngeblog, Alhamdulillah gak pernah mikirin dapet duit atau engga. Jadi nulis pun, ya nulisin sesuatu yang disuka aja. Kalau bahas kuliner terus kata lidahku gak enak, ya tulis gak enak. Hehehe.

    Terus ngggg agak kesel juga liat beberapa blogger yang isi blog nya promo ini itu semua, lagi enak2 blog walking eeeh pas bagian bawah malah ngiklan 😦

    Hak mereka sih ya, cuma jadi gak asik aja kalau aku bacanya.

    Waaaah komenan curhat maapin 😁😁😁

    1. setujuuu! nulis emang intinya harus jujur dan bisa main cantik. Dan itu perlu proses panjang. Mungkin penulis atau blogger sering keseleo di prosesnya.

  9. Aku belom pernah nulis blog dibayar, apalah aku ini haha

    Kalo blog2 yg nulis review hotel & restoran itu dibayar gak sih? Atau dikasih undangan/voucher nginep/makan gratis? Kadang lama2 bosen juga kalo baca blog yg isinya review terus hihi

    1. coba deh mbak bije. Blog mbak udah bisa masuk kategori tuh, karena rafficnya rame. Tapi imho sih ya, mbak bije tetep kayak sekarang aja, just the way you are. Nggak usah ikutan yang promosi lah, ngiklan lah, apalah apalah.

      Sekarang di kalangan blogger juga lagi rame bahasan “bosen baca blog yang isinya promo terus. Ngiklannya keliatan banget. Pembaca rindu blogger yang nulis keseharian dengan bahasan yg santai dan nggak dikejar tuntutan jualan”

      Itu blog yang isinya ngiklan, mereka dibayar, kadang dapet voucher juga. Lumayan meenggiurkan sih

  10. Benar kayaknya mbak. Penulis zaman sekarang nggak punya prinsip makanya nggak kunjung terkenal kwa ga ha….

    1. hohoo kayaknya susah juga mempertahankan prinsip

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: