Hari Paling Baper

Akhirnya… saya sidang!

Oh begini ya rasanya diuji tiga dosen, ditanya materi-materi dasar selama kuliah empat tahun, dibikin tegang –yeah, beberapa pertanyaan sederhana nggak bisa gue jawab. pfft– demi menguji mental calon sarjana yang diiharapkan lulus nggak cuma bawa ijazah.

Saya bukan mau cerita tentang prosesi sidang –yang sesungguhnya sudah akan saya lupakan– tapi cerita soal persiapannya, cerita tentang siapa dan apa yang terjadi di balik kehebohan saya nyiapin hari menegangkan itu.

Namanya Pak Endang Mustari

IMG20151229082641

Waktu dosen belum datang, setengah jam sebelum sidang, saya deg-degan luar biasa. Trus saya cek ruangan dan belum dibuka. Saya kirim teks lah ke penjaga ruangan yang biasanya bertugas di departemen saya. Isi teks saya begini;

Pak Endang, maaf, apakah ruangannya bisa dibuka sekarang? Saya deg-degan, Pak. Ke sini sekarang ya, Pak.

Untungnya beliau bukan dosen. Haha. Lumayan banget, adanya beliau nemenin saya beberapa menit bikin jantung makin nggak beres. hiks

Saksi Hidup

Saya mau mempersembahkan paragraf ini buat dia, yang mulai dari saya nyiapin seminar, dia udah jadi tempat sampah super. Mulai dari saya cerewetin, saya marahin, saya ganggu, saya repotin, saya suruh bantuin.

Makasih ya. Mungkin salah satu hikmahnya kamu nggak diterima di Gottingen karena Allah pengen kamu bantuin aku nyiapin seminar-sidang-datang ke wisudaku-datang ke…… *sensor ๐Ÿ˜›

Selain dia, ada juga saksi hidup lain. Tapi karena ini masih euforia sidang, jadi saya cuma mau nulis tentang dia aja dulu.

Oh ya, ini hadiah dia buat saya

IMG-20151229-WA0002

Pas saya lihat tulisan ini, reflek saya nengok kapan tanggal kadaluwarsanya.

IMG-20151229-WA0004

Kebayang apa maksud dua foto itu? Haha. Ini semacam deadline dari kawan saya. Okesip.

Kaleng Bayam Popeye

IMG-20151229-WA0010

Eh, maaf itu dikasih masker haha. Ada orang-orang menyeramkan yang baca blog saya soalnya. Daripada nanti disantet, lebih baik foto saya disamarkan.

Malamnya, H-beberapa jam sebelum sidang, saya diare dan udah bolak-balik kamar mandi 6x. Entah karena sebelumnya makan pedes atau ditambah stres.

Dan malam itu juga, saya ditelpon sahabat, masih 1 departemen juga di kampus. Cuma sekarang dia udah nikah dan tinggal di Bandung. Nasihat-nasihat dia menenangkan bangeeeettt. Malam itu saya lumayan lebih tenang, meskipun besok paginya mules lagi.

Dari sehari sebelum saya sidang, banyak yang doain saya. Hiks. Bahagia banget punya mereka.

Screenshot_2015-12-29-12-35-59

Screenshot_2015-12-29-12-37-29

Screenshot_2015-12-29-12-39-15

Screenshot_2015-12-29-12-36-30

Screenshot_2015-12-30-12-00-35

Ya Allah, itu tuh rasanya nyess banget kayak popeye yang nyaris pingsan karena terdesak musuh, terus dapat kekuatan waktu makan sayur bayam. Bahkan hadiah-hadiah kecil dan sederhana yang mereka kasih, jadi terasa sangaaaat spesial karena ada doa yang menyertai.

Masih banyak doa-doa bertebaran. Saya cuma sempat capture beberapa. Terima kasih yaa.

Saya mau bawang bombay deh ah nulis ginian doang. Haha. Karena saya baru pertama kali ngerasain yang namanya sidang, ditambah kilas balik perjalanan hidup ke belakang –dari tumbuh kembang saya bareng orang tua yang sangat terseok-seok– rasanya doa itu sumber kekuatan saya bisa bertahan sampai sekarang.

Maka saya sama sekali nggak peduli dengan anggapan beberapa teman yang kalo pas sidang-wisuda nggak ada teman lain yang datang rasanya hidup tak berarti. Nggak gitu juga sih. Kalo saya sih ya, doa dari mereka udah cukup. Cukup banget.

Ibuk!

IMG-20151212-WA0004

Ibuk (jilbab ungu) dan kawan-kawan kuliahnya

Tiap ada momen penentu yang penting, macam ujian akhir, ujian tengah semester, presentasi, wawancara, dsb Ibuk selalu tanya jam ke saya. Jam berapa ujiannya, jam berapa presentasinya, jam berapa wawancaranya. Lalu sebelum saya berangkat, saya cium dan peluk Ibuk agak lama.

Ibuk selalu bilang, “Tanpa kamu minta, Ibuk selalu doain kamu”

Ternyata, alasan Ibuk tanya jam itu, karena disaat yang sama ketika saya lagi ujian, presentasi, wawancara, dan momen ‘penentuan’ lain, Ibuk wudhu, gelar sajadah, sholat hajat, dan berdoa. Kalau kegiatan saya sampai 3 jam atau lebih, maka selama itu pula Ibuk duduk di atas sajadah dan berdoa.

Semacam ritual yang selalu beliau lakukan untuk saya. Pada titik ini, saya memang merasakan betul berkahnya ridho Ibuk. Seperti kata Ibuk, doa yang tanpa pernah saya minta pun Ibuk akan tetap sebut setiap 5 waktu, setiap malam, setiap dhuha.

Saya selalu merasa hidup saya yang nyaman ini bukan karena ketakwaan saya, bukan karena produk kesholihahan saya, bukan karena tingginya keimanan saya, duh.. nggak mungkin banget lah. Boro-boro sholihah.

Setiap kemudahan dan keberuntungan yang Allah kasih ke saya, justru karena Ibuk. Karena saya menganggap kalo saya sekarang lagi “menumpang” keberkahan orang tua, menumpang ketakwaan Ibuk. Maka saya bisa jalan sampai sejauh ini ya fiks karena doa Ibuk yang nggak pernah selesai. Kalo bukan karena itu, entah saya jadi kayak apa sekarang.

Tua vs Muda

Saya pernah nulis tentang perasaan iri saya sama Ibuk di sini. Biasanya, saya iri ke temen sepantaran, ketika misalnya, hapalan dia lebih banyak, amal sholih dia lebih numpuk, dll. Nah, tapi cuma sama Ibuk –yang notabene udah tua, keriput, ya jauhlah kalo mau membandingkan dari segi kesehatan juga– saya sukses dibikin iri layaknya saya iri ke temen-temen sebaya.

Ibuk hobi banget silaturahim. Bayangin, kamu punya keluarga besar yang pastinya masing-masing dari mereka punya besan, punya sepupu, punya adik/kakak ipar, punya sepupunya adik/kakak ipar, punya om/tantenya sepupu, punya buyut, punya kakak dan adiknya buyut, punya sepupunya buyut, ya pokoknya semacam mata rantai yang seolah nggak pernah putus.

Nah, Ibuk saya sangat akrab sama masing-masing dari mereka semua. Semua. Sumpah saya juga pusing dan nggak paham lagi gimana ngejelasinnya. Pokoknya semua saudara yang masih punya galur keluarga dengan kakek dan nenek buyut (kakek-nenek buyut loh ya, bukan kakek-nenek doang) itu pasti Ibuk kenal. Bukan kenal lagi deng. Akrab!

Saya cuma bisa bayangin itu kalo dikumpulin semua, bisa jadi warga satu kota kali ya.

Ibuk nggak pernah setengah-setengah nolong orang. Contoh kasus, ada orang pinjem duit belum dibalik-balikin dari bertahun-tahun lalu sampe sekarang. Trus Ibuk berdoa supaya ketemu sama orang itu, tapi bukan buat nagih duitnya. Ibuk mau ngasih sepeda biar dia bisa jualan, bisa kerja, karena memang hidupnya luar biasa kekurangan. Ibuk cukup dekat sama orang ini.

Paling nggak dua hal ini yang bikin saya iri maksimal. Masih kalah jauh. Jauuuh. Wah, angkasa dan perut bumi deh. Ibuk angkasanya, saya perut bumi paling dasaaaar, paling kecil, paling nggak kelihatan, unsur atomnya.

Lah napa jadi bahas nyokap.

***

IMG20151229080614

Sesungguhnya, penjelasan tentang cinta dan ketulusan hanya ada pada doa. Semakin sering dan khidmat menyebut-nyebut nama seseorang di waktu-waktu sakral, maka sekhidmat itulah kasih sayangnya.

Kalau bicara cinta harus selalu butuh pembuktian, maka doa bisa menjadi jalan pembuka. Adanya ia adalah kunci bagi hati yang tertutup, hati yang saling benci, hati yang tersakiti.

IMG20151229081001

Semoga doa selalu menyatukan kami.

Bogor, 30 Desember 2015
10:21 AM

Advertisements

24 comments

  1. wah,…selamat yah sekar..udah lulus sidangnya.. ๐Ÿ™‚

    btw ibuk nya masih muda yah..

    1. makasih mbak fitriii ๐Ÿ˜€

      usia ibuk sekitar 57-58 kok mbak.Itu kayaknya efek kamera, hihi.

  2. Yay… congrats. Selamat ya dek. Turut bahagia. ๐Ÿ™‚ *cipika cipiki

    1. makasih mbak! ๐Ÿ˜€ *salim*

  3. Selamat Sekar. Semoga langkah kedepan buat menggapai cita2 makin mudah dan berkah *bijaksana sekali aku haha.

    1. Terima kasih mbak den. Aamiin Ya Allah. Duh, aku suka doanya. Makjlebb :”)

  4. Congrast ya mba Sekar ๐Ÿ™‚

    1. yeay, terima kasih ๐Ÿ™‚

  5. Selamat Mbak Sekar, muah-mudahan perjalanan selanjutnya dimudahkan Allah ๐Ÿ™‚

    1. Aamiin Ya Allah. Terima kasih doa superrnya mbak Ami ๐Ÿ™‚

  6. Selamat mba sekar.. semoga lancar terus sampai wisuda

    1. Aamiin. Terima kasih banyak, ummi. Semoga Allah mudahkan juga semua urusan ummi dan keluarga.

  7. NinaFajriah · · Reply

    Aaakk Selamat yang sudah sidang!! *hughug* selamat menikmati waktu pasca sidang, disertai bapernya ya mbak sekar ๐Ÿ™‚

    1. Alhamdulillah, makasih mbak ninaaa.. :”) Lumayan plong nih. Tinggal revisinya numpuk

      1. NinaFajriah · · Reply

        Ayo mbak tetap semangat, tinggal selangkah lagiii hehehe ๐Ÿ˜€

  8. Selamat ya sudah lulus sidangnya. Sama, aku jg merasa bahwa dulu bisa selesai skripsi n lulus sidang, itu buener2 banyaaaaaaaak sekali dibantu oleh doa orang tua. Da aku mah apa atuh, konten skripsi ku aja amburadul begitu…. Akhirnya bs lulus kuliah setelah 5 tahun, hehehe.

    1. Alhamdulillah makasih mbak tika. Doa orang tua emang cespleng! konten skripsiku juga mbak haha. Tiap halaman direvisi. Kalo inget ngerjainnya yang sampe 1 tahun, harus sabaaaaarrrr

      1. Hahaha aku malah nggak ditanyain apa2 sama sekali sama dosen pengujiku. Udah hopeless kayaknya. Cm disuruh revisi aja.

  9. Wah asik nihhh! Selamat ya Sekar udah lulus ๐Ÿ˜€

    1. yeay! makasih mbak caca ๐Ÿ˜€

  10. Barakallah chan, akhirnya hari yang di nanti terlampaui, semoga Allah mudahkan untukmu segala proses selanjutnya.

    1. aamiin.. makasih doanya ya cintaaa :*

  11. Selamat ya Sekar ๐Ÿ™‚

    1. *zoom in zoom out* aaaaak ada pejabat datang ke blog rakyat jelata!! 0,O Bang epi datang langsung ingat blog sebelah udah disemutin.

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: