Cerita Si Kuli Tinta #3

Semoga cerita saya kali ini nyambung sama judulnya. No offense, no impress, murni curhat ๐Ÿ˜€ *walaupun sesungguhnya tulisan ini ngimpress keluarga sendiri*

Ibuk saya wa-an sama saudara satu buyut. Status dia adalah kakak sepupu Ibuk. Dia tanya kapan saya wisuda. Oke. Sampai sini udah bisa ketebak apa pertanyaan selanjutnya setelah wisuda.

Di kampus saya, sesungguhnya wisuda nggak penting-penting amat. Maksudnya bukan nggak penting buat diikuti, walaupun memang bisa untuk nggak ikut wisuda asalkan tetap bayar (wisuda nggak wisuda wajib bayar). Dan itu mahal.

Nggak penting maksud saya di sini adalah, wisuda bukan tolak ukur mahasiswa sudah lulus atau belum. Kalau belum wisuda, berarti belum lulus dan kalau udah wisuda artinya udah lulus dan sah dengan sebutan alumni universitas x, alumni institut y. Nggak gitu. Kunci mahasiswa fiks dibilang sarjana adalah ketika selesai sidang (dengan catatan lulus) dan SKL keluar.

Nah, tapi keluarga saya sebaliknya. Entah ya, keluarga besar atau cuma beliau ini. Soalnya di keluarga besar ada yang jadi dosen, pasti ngertilah mereka. Cuma yang satu ini nih (dan banyak juga sih yang lain heuuh..) yang tanya pertanyaan sama: kapan wisuda?, dengan embel-embel seperti yang saya sebutkan di atas: wisuda = sudah lulus.

Yah, wajar sih. Mereka mana paham konsep SKL ini. Yang penting lihat udah make toga, udah lulus. Kalo belom keliatan toganya, belom lulus lah saya. Hiks.

Mana Pacarmu?

pixshark(dot)com

Klise. Saya sempet berencana bawa orang sewaan buat diaku pacar pas kumpul-kumpul keluarga. Tapi enggak lah, takut jadian beneran. Wahaha.

Jadilah PNS

ekspresi-wajah-lucu-atlet-pelatih-12

kira-kira begini wajah saya begitu disuruh jadi pns

Saya fiks nggak mau jadi PNS. Kenapa? Pengalaman bapak ibuk, waktu mereka jadi tersita habis di kantor. Pulang-pulang saya tinggal lihat capeknya doang. Bablas itu niat mau ngajak main, ngajak becanda, ngajak cerita-cerita, ngajak ketawa, ngajak hepi-hepi.

Dan saya tau betul, bapak ibuk saya nggak produktif-produktif amat di kantor. Biasa aja. Paling kerjanya pagi sampai dzuhur. Setelah dzuhur, tinggal santai sambil nunggu sore, lalu pulang. Beberapa tahun sempet saya habiskan dengan ngintilin ibuk ngantor, jadi tahu banget kerjaannya kayak apa.

Saya yakin kok, di luar sana pasti banyak pegawai pemerintah yang tetap bisa bekerja dan berkeluarga dengan baik. Saya nggak bermaksud memukul rata. Semua juga balik ke orangnya masing-masing. Saya nggak mau lebih karena saya takut menzalimi anak-anak dan keluarga saya nanti karena saya sulit bagi waktu kerja (yang sebagian besar habis di kantor) dan urusan rumah.

Dan lagi-lagi, nggak cukup ortu, keluarga besar pun punya kerangka berpikir yang sama: Jadilah PNS, maka engkau telah bekerja dengan sesungguhnya pekerjaan di muka bumi.

Glek

Menulis dan Konsekuensi Pilihan

187781853-1

Saya harus bertanggung jawab terhadap pilihan ini. Kalau saya nggak mau jadi PNS, maka saya harus melakukan sesuatu untuk membuat orang tua paham terhadap pilihan anaknya. Tugas saya selanjutnya adalah meyakinkan orang tua bahwa pintu rizki itu bukan 100% ada di PNS dengan segala jaminan pensiunnya.

Saya yakinkan orang tua bukan sehari dua hari, disaat sudah hampir lulus begini. Tapi bertahun-tahun, men. Mulai dari pertama saya didoktrin pas masuk kampus –sigh! ini kampus emang bikin gue jadi pencilan di keluarga sendiri– sampai sekarang, sampai detik ini. Ibuk udah berhasil sukses 100% saya cuci otaknya, hua-ha-ha-ha *ampun bahasanya cuci otak*

Sepupu saya pernah saya tanya, “Kenapa ya di keluarga besar kita, orang yang masuk jurusan sosial atau humaniora, pasti dianggap gimanaa gitu. Nggak penting, terlalu idealis, dll. Ngerti kan maksudku?”

Kata dia, “Iyalah. Jurusan kayak gitu tuh need to work harder. Nggak kayak jurusan sains. Tompi, misalnya. Dia dokter gigi dan suka bermusik. Tapi nyanyi nggak jadi pekerjaan utama.”

Okesip.

Saya nggak mau memulai perdebatan. Sebelum-sebelumnya saya sempat berdebat langsung dan berakhir dengan saya nangis sendiri pas pulang karena kesel.

Pertanyaan (lebih tepatnya keheranan) saya selanjutnya cuma satu: bukannya semua yang pengen sukses emang need to work harder ya? apa cuma jurusan sosial dan humaniora doang yang harus kerja keras tapi jurusan sains enggak?

Saya pernah meyakinkan diri bertahun-tahun juga untuk menentukan ingin jadi apa saya di masa depan. Sebutlah penulis. Maka saya harus siap dengan fluktuasi honor yang sangat tergantung dengan seberapa produktif saya menulis. Produktivitas menulis pun nggak bisa jalan kalau saya malas, sok-sokan lagi writer’s block.

Saya masih on progress menyelesaikan buku, yang udah bilangan tahun juga nggak beres-beres karena saya miskin literatur. Semoga selesai dan terbit pertengahan tahun ini. Aamiin.

Segitu dulu. Kerjaan sebagai kuli tinta tengah menanti. Ah ya! revisi juga.


Ahad, 3 Januari 2015
5:50 PM

Advertisements

31 comments

  1. Sekar udah sidang? Congrats… ga beda jauh sih sama pandangan di keluarga aku… iyalah… masih Indonesia juga. Kayaknya PNS tuh kerjaan yang sesuatu banget ya wkwkwkw. Mungkin di generasi kita ga gitu kali ya ke anak kita nanti. Semoga

    1. Harusnya emang sebagai ortu, kita serahkan sepenuhnya pilihan pekerjaan pada anak. kalau emang mau jadi pns atau wirausaha, ya silakan. Asal suka dan konsekuen. Jangan dipaksa, gitu. Toh juga selepas kuliah, mereka udah gede kan, udah bisa ambil keputusan sendiri. Paling ortu cuma ngasih pandangan aja. Hohoo

  2. Dulu sempet kepikiran gitu, sempet kepengen wirausaha (jait ato jualan baju ato bikin butik sendiri) tapi gagal dan setelah tau gimana sulitnya nyari kerjaan di swasta akhirnya kembali ke mimpinya ortu yg nyuruh anaknya jadi pns hehe

    1. nah, asalkan anaknya mau malah gapapa banget ya mbak. Aku salut malah sama orang yang kerja jadi pns tapi masih bisa jalan-jalan, masih bisa menikmati hidup. Work-life balancenya tuh oke banget.

      btw, kok aku nggak bisa komen di blog mbak bije yak? diprivat bukan?

  3. harusnya yang nanya ‘kapan wisuda?’ di ganti aja ya jadi ‘kapan lulus?’. duh PNS memang cita2 sejuta umat,ortuku juga gitu loh pengennya aku jadi PNS,hehe

    1. hahaha iya, lebih baik ditanya kapan lulus. Seenggaknya ketika aku udah selesai sidang dan belum wisuda, aku bisa bilang “udah lulus!” tanpa harus jelasin yang lain-lain.

  4. sepertinya pandangan orang tua zaman dulu pada sama yah sekar, dkeluargaku juga berpendapat, kerja itu ya jadi PNS…
    eh tapi jadi PNS ga mesti abis waktu juga kok, jadi dosen ga harus full time kan.. ๐Ÿ˜€

    1. betoool! aku masih berpikir ulang kalo disuruh jadi dosen, hehe. Tergantung instansi ya mbak fitri kayaknya.

      1. hehehe..hu uh sekar.. tapi kalo kerjanya PNS kantoran sih pasti sama lah…7 to 4.. pulang udah capek..

  5. NinaFajriah · · Reply

    Yang pasti punya kerjaan yang menghasilkan, dengan privilege waktu kita atur sendiri itu mewah banget deh. Dan aku setuju bahwa kerja ga harus di PNS atau BUMN ๐Ÿ™‚

    1. iya bener, atur waktu yang penting. apalagi posisi sebagai wanita karir yang sudah berkeluarga. Ugh, mesti belajar nih dari mbak nina

      1. NinaFajriah · · Reply

        Jujur menurutku kerjaan Sekar yg skrg udah oke kog krn ga harus menghabiskan waktu diluar rumah *percaya deh kalau udah punya anak you know what I mean* ๐Ÿ˜€ nah tinggal kembali ke diri Sekar nih cita2 nya apa? * ๐Ÿ™‚

  6. cieee lagi ngerjain skripsi juga kah?

    aku setuju banget yang perihal wisuda? wisuda itu gampang mah, ga terlalu penting juga. kalau di aku yang penting ujian skripsinya lalu yudisium. aaaak ~ *nervous

    1. udah lulus aku, gadis. haha. harusnya sih lulus tahun kemarin. *banyakan magernya* -_-

      sukses ya skripsi dan yudisium-mu, semoga Allah mudahkan prosesnya

      1. Amiiin ๐Ÿ˜€ terimakasih mbak sekar

  7. Kar Sekar! Syudududu…….. Persis deh sama akooooh! *gemesh*

    Disuruh jadi PNS atau pegawai BUMN dan sebagainya. Karena eh karena banyak tunjangan nya dan banyak fasilitasnya. Juga jaminan kesehatan untuk diri sendiri dan keluarga dan ini itu nya. Tapi eh tapi, sebagai pihak cewek yang maunya dapet duit dengan cara senang dan masih bisa masak masak lucuk dirumah. Aku nya ndak mauuuu hahaha.

    Pernah liat meme tentang Indonesia gak? Ketika orang luar negeri mengejar cita2 diri sendiri atau mengejar apa yang dibutuhkan negara (kemajuan teknologi dsb) nah Indonesia cuma mengejar PNS semata. Udah gitu ditambah korupsi kecil-kecilan yang dianggapnya gak korupsi. Hehe. Begitulah.

    Ini komen apa sih Fasy ๐Ÿ˜ฆ gak tau lah Kar. Pusing aku juga. Jadi laper wkwk

    1. hahaha. ini komen aa curhat? ๐Ÿ˜›
      kayak gimana tuh memenya? mau liat dong. Coba share kalo ada link-nya.

      aku pernah baca di salah satu buku sastra yang ada pembahasan ttg kenapa orang-orang tua zaman dulu (sampe abad 21 pun masih ada) lebih mentereng dengan embel-embel pns. Soalnya pas zaman belanda itu, hanya orang-orang terpelajar dan yang terpilih yang bisa kerja di pemerintahan. Selebihnya, ya jadi buruh, bertani, berdagang. Segitu pun pns-nya di bawah kuasa asing. :/

  8. Dini Febia · · Reply

    Semangat, semangat, semangat!! ๐Ÿ˜€

    1. Siyaaaap! Yosh!

      1. Dini Febia · · Reply

        yay! ๐Ÿ™‚

  9. halo Sekar..selamat ya udah wisuda. samaan nih di aku. sampe sekarang, aku masih dianggap tidak bepekerjaan layak lho sama keluargaku. masih dianggap gembel. haha. seriously. entahlah, mungkin tolok ukur yang ketinggian apa gimana ya. aku juga gagal paham

    1. kalo untuk ukuran ortu dan keluarga besar yang hidup di era reformasi, wajar mungkin ya mbak masih berpikir begitu. Sekarang tinggal kitanya yang kudu wajib open mind, apalagi buat anak cucu nanti hohoo *soktau banget* ;p

  10. Hehehe semangat mba sekar, jadikan semua segaia pemicu buat sukses ya. Kesal boleh dan wajar banget namanyapun manusia ya, tapi jangan dimasukin ke hati. Maksud mereka baik hanya pada akhirnya kan mba Sekar juga yg menjalani dan merasakan susah dan senangnya ๐Ÿ™‚

    1. iya betuuul. hehe, semoga aku nggak kelamaan bapernya ๐Ÿ˜€

  11. Kerja keras, kerja cerdas sekar. Saya sepakat dengan pendapat bagaimana kehidupan PNS diatas (soal ibu bapak juga PNS).

    Pernah baca buk Robert T. Kiyosaki, clash flow cuadrant? recomended.. ๐Ÿ™‚

    1. belum. oke noted! coba kali-kali mas assa bikin postingan daftar buku rekomendasi untuk apaaaa gitu. misalnya, “25 buku rekomendasi untuk para pencari makna hidup” #ahzeg

      1. ahzeg, kayaknya “harus dipaksain (bengeut)” biar bisa nulis seperti judul yang sekar usulin. #akumahapahatuh

        1. coba coba! tak tunggu ya postingannya mas assa

  12. pandangan orang tua terutama yang zaman dahulu .. kerja di PNS paling top deh …
    coba anak2 zaman sekarang … gen Y .. sudah beda banget pola pandangnya … cita2nya juga yang ga pernah ada di zaman saya kecil …. ๐Ÿ˜€

    1. beda ini maksudnya bagus atau nggak mas? hehe. Multitafsir

  13. […] tidak akan selamanya menjadi karyawan kantor. Sebab, sebagaimana tekad awal saya untuk menjadi penulis lepas sepenuhnya, saya menganggap fase pekerjaan kantor yang satu ini sebagai arena kontribusi baru. […]

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: