Para Pendaki dan Pemuda Sarha

Setelah selesai mendaki, hal pertama yang saya pikirkan terus-menerus adalah menuliskan cerita perjalanan. Dari 4 gunung yang sudah saya coba, 2 di antaranya saya ikuti bersama kawan-kawan Cave Adventure. Kenapa namanya Cave? Kapan-kapan saya bahas di satu postingan sendiri.

Nah, kali ini saya mau nulis agak serius dikit dengan bahasa campur campur (ya formal, ya informal). Nggak apa-apa ya? 😀 Semoga masih enak dibaca.

Kalau postingan jadul ini isinya tulisan yang saya juga nggak paham gimana cara bacanya, maka sekarang, saya mau nulis report hasil nanjak dengan ulasan yang agak normal.

Tulisan yang dulu itu kayaknya lebih banyak menertawakan penderitaan temen sendiri. Zaman saya ada dalam fase jahat, motto hidup saya hanya satu; jika sahabatku sedang bahagia, maka aku ikut bahagia, namun ketika dia sedih, maka aku semakin bahagia. 

Hiks. Nggak lagi sekarang…

Altitude 2.249 mdpl

20160116_064719

setelah lihat foto ini, pertanyaan yang muncul adalah: siapakah mas-mas yang bawa carrier biru? #eaak 

Mendaki Gn. Guntur kali ini saya persiapkan dengan sangat matang, mulai dari kesiapan jasmani, perlengkapan mendaki, sampai kesiapan hati *uhui

Meskipun gunungnya pendek, tapi ternyata bikin saya kapok pernah anggap dia gampang didaki. Kalau saya bilang, gunung guntur itu kecil-kecil cabe merah keriting. Bahkan, untuk ukuran Gn. Salak yang medannya cukup berat (skala 7 dari 10), saya lebih pilih Salak deh daripada Guntur. Salak bisa menyembuhkan konstipasi

*garing*

20160117_054459

Bagi setiap pendaki, untuk sampai ke top, mereka pasti punya semacam “tracking pole” (baca: tim) yang pasti bikin dia kuat, bertahan dari napas yang tinggal satu dua (baca: ngos-ngosan), supaya bisa menikmati yang lebih indah di atas sana.

Nah, selama proses menuju puncak itulah, para pendaki juga harus kejar-kejaran dengan ego strenght.

Menaklukan Diri Sendiri

IMG20160117082447

Sepertinya Raja Shehadeh bisa mendeskripsikan bagaimana setiap momen perjalanan alam yang melelahkan, pendakian misalnya –meskipun kelihatannya ya begitu begitu saja– bisa punya esensi yang lebih deep, touch, and powerfull.

Ia menulis buku Walk on the Vanishing Land yang melegenda. Raja Shehadeh bercerita tentang kebiasaan yang ditanamkan orang-orang Palestina pada para pemudanya. Melalui ia, kita akan belajar mengenal rupa seorang petarung sejati yang mendewasa bersama alam.

Sarha

Sarha adalah pengembaraan seorang diri, menelusuri padang pasir dan jalan-jalan bebatuan untuk berkunjung ke rumah salah seorang kerabat, yaitu kakek, nenek, paman, bibi atau seorang kenalan dari keluarga. Bukan destinasi yang menjadi patokan, tapi peristiwa penuh hikmah yang dirangkum sepanjang perjalanan.

Bukan perkara mudah melintasi padang pasir. Ia merupakan sebuah perjalanan berbahaya menghadapi ular, kalajengking, badai pasir, dinginnya malam, terik siang yang membakar.

stock-clipcom

stock-clip.com

Selain ketrampilan teknis yang dibutuhkan untuk survival, Sarha membantu para pengembara mengamati apa yang selama ini terlewat dari indera. Suara angin, butir-butir pasir yang beterbangan, gerakan binatang melata, gesekan kaki, jejak yang tertinggal di padang.

Belajar menangkap gerakan alam yang paling halus, berarti belajar mendengarkan apa yang mungkin terlewatkan.

Barangkali seperti inilah para pendaki harus belajar pada setiap fase menuju puncak. Masing-masing dari kita perlu menantang, sejauh mana bisa berbuat untuk orang lain, disaat diri sendiri juga kesulitan. Pada kehidupan sehari-hari, bukankah begini yang Rasulullah tauladankan?

Kalau pemuda Sarha berjalan sendirian di padang pasir, maka para pendaki berjalan bersama “tarcking pole” dan harus belajar untuk berhenti bicara tentang aku, tapi kita. Tidak terus-menerus menunjukkan siapa saya, tapi inilah kami. 

Semakin ke puncak, maka cara pandang bisa semakin meluas, sejalan dengan luasnya satu bagian bumi yang dilihat dari atas. Tidak buru-buru mengkerdilkan suatu perkara, tidak tergesa-gesa menyimpulkan kelalaian. Semakin mendaki ke ketinggian, semakin bungkuk berjalan, semakin mawas, semakin sulit bila hendak jumawa. Bukankah hebat sekali hidup para pendaki ini?

Satu Puncak, Satu Coretan

IMG20160117055707

Beruntung, Sarha tak pernah meloloskan para pelakunya dengan begitu mudah. Perjalanan tanpa kendaraan itu dihabiskan selama berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan.

Ketika pertama berangkat, para pengembara hanyalah sosok kurus, ceking, lemah, tak dilirik sama sekali, maka Sarha akan mengubahnya di kemudian hari menjadi sosok yang tak akan pernah lagi sama dengan sebelumnya: tubuh kekar, berotot, kuat, garis wajah keras.

Lantas bagaimana dengan jiwa para alumnus Sarha?

Para pengembara hasil didikan Sarha tak akan mudah goyah pendiriannya. Mereka akan selalu siap bertempur bahkan ketika sedang nyenyak tertidur. Mereka akan berdiri dengan cara pandang luas, sikap yang bijak, dan hati yang demikian lapang.

Artinya, dalam satu kali perjalanan panjang dan melelahkan, para pemuda Sarha berhasil mencoret tidak hanya satu misi, tapi belasan, mungkin juga puluhan. Sebab setibanya di rumah kerabat, mereka sudah dalam keadaan yang jauh berbeda. Ditambah sekembalinya ke rumah sendiri, mereka akan berubah total. Ya fisik, ya akal, ya cara berpikir, ya prinsip hidup. Semuanya perlahan menjadi matang.

Apakah para pendaki bisa mensejajarkan kondisi diri dengan para pemuda Sarha?

Saya rasa sangat bisa. Caranya sederhana: tengok tujuan dari setiap perjalanan. Karena apa yang dituju, adalah apa yang didapatkan. Kalau ingin mencoret banyak misi, maka siapkan narasi besar dalam hidup, desain setiap perjalanan dengan tujuan yang kokoh, sabar dalam prosesnya, doa tanpa jeda, dan….. just do it!

BPRO0094

Malam pertama di pos 3 lereng guntur, saya berhasil membuat 10 resolusi prioritas tahun 2016, yang sebelumnya selalu tertunda dibuat. Lalu saya sebut dalam hati, jika Allah mengizinkan, semoga saya bisa mencoret setiap resolusi itu di puncak gunung, kemudian menambah yang baru lagi, dalam posisi sama: on the top. Insyaa Allah…

Kalau nanti naik gunung lagi dalam waktu dekat, 1 bulan kemudian misalnya, maka saya akan semakin termotivasi untuk segera menyelesaikan daftar resolusi itu, sebelum sampai ke lokasi pendakian. Sebab di puncaknya nanti, saya harus mencoret satu resolusi yang sudah terlaksana. *Aamiin Ya Allah*

Jadi… Kapan Kita Nanjak Lagi?

IMG_20160116_064129

20160117_125114

Sebab mendaki perlu kaki dan pundak yang kokoh, maka saya ingin terus membersamai tim kecil ini sampai di kemudian hari, kami punya kabar bahagia, bahwa sekembalinya dari pendakian, kami juga punya tekad dan kesiapan lebih untuk mengokohkan keimanan.

Atau barangkali kita bisa punya rencana hebat untuk dicoret bersama-sama? 🙂

***

20160117_061705

*topik sarha terinspirasi dari tulisan ketum flp; sinta yudisia

Sabar ya kaki, nanti kita pijet
Selasa, 19 Januari 2016
3:09 WIB

Advertisements

29 comments

  1. Salut buat yg sanggup naik gunung😄

    1. pernah nyoba kaknon? asik loh

  2. aku pengen banget deh bisa ndaki gunung..hiks…

    1. ayo coba mbakfit! sama suami 😀 tapi kudu olah raga sebulan dulu

      1. hihii…si bayik ga mungkin ditinggalin..

        1. bayinya diajak! XD kalo udah gedean dikit hihi

  3. salut deh, kalo saya malah gak kuat kalo suruh mendaki gunung, hehe

    1. mendaki tangga aja mbak, itu juga udah ngos-ngosan hihi. Jadi inget pas mbak naik kereta gantung itu ya sama suami. Wah, coba jangan pake kendaraan, tapi jalan kaki 😀

      1. waduh itu tinggi banget,bakalan gak sanggup klo suruh naik tangga,mendong tuggu di bawah aja,hehe

  4. naik tangga rumah aja ngos2an hahaha

    1. nah! sama-sama bikin betis dan paha pegel

  5. 😍😍😍 keren banget kakak Maudy Ayunda.. 😆😆

    1. siapa dulu dong inspiratorku….. @nurfatatii :p

  6. Purwito @anak_debu · · Reply

    Keren kak maudy , Lanjutkan daftar coretanmu (y)

    1. aamiin. semoga Allah mudahkan

  7. aku suka gunung tp tak sanggup naiknya itu loh

    1. lebih suka pantai ya mbak winny?

      1. lebih suka museum hahaha

  8. Bang Ical · · Reply

    Trima kasih 😀 baru sekarang saya ngeh sama kata ‘Sarha’ 😀

    1. sama-sama 🙂

  9. Aku belum pernah ke Guntur 😦

    1. guntur kecil-kecil maknyos. ayo cobain! 🙂

  10. perlu banyak berolahraga untuk melatih fisik sebelum mendaki gunung
    gunung guntur itu dimana kak? baru denger 🙂

    1. Yap, olah raga minimal 1 bulan sebelum hari-H. Gunung Guntur ada di Garut. 🙂

  11. […] bukankah Pawan sedang menikmati ujian Sarha? Lalu bagaimana […]

  12. hebat buat anak gunung .. apalagi cewe … ckckck
    saya sih belum pernah naik gunung .. ngemall mulu … 😀

    1. ah masak sepedaan ke gunung belum pernah mas? nggak percaya

      1. euu .. nganu mba … saya hanya sesepedaan aja koq mba .. nggak pake naik2 gitu

  13. […] Orang-orang menyebutnya Pemuda Sarha. […]

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: