Morning Rain

Namanya Kahfiya, lebih sering dipanggil Key.

Dia adalah salah satu teman saya yang –selain membaca buku dan berdoa– selalu berbicara setiap malam dengan Coki sebelum tidur. Coki artinya cokelat dan indah, begitu nama yang ia siapkan sejak dua bulan, sebelum Ayahnya menjanjikan kehadiran Coki mengisi rumahnya yang cuma dihuni dua kepala; Key dan bibinya.

Coki selalu mendampingi setiap detak jam dimana Key seringkali kesulitan bernapas, disesaki kerinduan yang teramat besar pada Ayahnya. Saya biasa memanggil Ayah Key dengan sebutan Pakdhe. Saya mengenal Key sebagai sosok yang humoris, ramah, mudah sekali berbaur dengan orang-orang yang baru dikenalnya, dan selalu bisa menghidupkan suasana. Dulu, belasan tahun lalu sampai sekarang, Key tidak pernah berubah. Justru saat ini saya mendapatinya jauh lebih dewasa dan bijaksana bersebab kisah hidupnya yang tidak berjalan sempurna.

rumayshocom

Setiap kali bertemu dengan dia, tidak pernah sedikitpun dia menasihati saya. Jengkel, tentu. Buat apa saya berteman dengan seseorang kalau dia tidak pernah sekalipun bisa memberi ilmu, meski cuma bilang, “jangan minum sambil berdiri.”

Tapi anehnya, saya selalu berhasil memahami satu cara bertahan hidup acap kali kami saling tatap muka. Jika bertemu keesokan harinya lagi, maka satu cara berikutnya saya dapati dan pahami dari wajahnya, dari gerak tangan dan kakinya. Padahal dia belum bicara apapun.

Melalui Coki, Key pernah berpesan satu hal kepada saya, “Kalau kamu lagi sedih, jangan mengeluh di depanku. Pundakku ini bukan jemuran yang bisa bikin pipi dan matamu kering. Jawaban yang kamu cari itu ada di antara kesulitan yang sekarang kamu alami.”

Kalimat yang selalu saya ingat karena itulah satu-satunya pesan dia kepada saya setelah sekian lama kami berteman. Meskipun –tetap– tidak pernah benar-benar saya dengar dari mulutnya. Belakangan, saya temukan apa maksud Key.

Waktu saya menginap di rumahnya, pada awalnya memang tidak ada yang istimewa dari aktivitas kami; menonton film, membaca buku bersama, makan malam, membersihkan rumah, lalu berbincang bersama Coki pada pukul 21.00. Sampai pada akhirnya saya mendapati bunyi ingus dikeluarkan dan isakan pelan yang ditahan. Saya bangun dan menengok jam dinding; pukul 02.00 pagi.

Key menangis. Sekali lagi, selama belasan tahun kami bersahabat, selalu wajah ceria, tawa panjang, dan humor-humor ringan yang saya hapal mati darinya. Ada sedikit rasa kesal, kenapa dia tidak jujur. Ketika belasan tahun saya sering mengadu, merengek, mengeluh ini itu padanya, ternyata dia menyimpan air bah yang jauh lebih dahsyat, yang tak pernah saya kira.

Saya menunggunya selesai. Denting jam sudah merangkak cepat; pukul 04.00. Isakan tadi sudah berganti dengan suara Coki. Ini langka, pikir saya. Key selalu mengobrol dengan Coki di malam hari, sebelum tidur. Saya hampiri dia.

“Tumben…”
Key tersenyum, “Aku lagi kangen Ayah”
“Kali ini, ceritanya tentang apa?” tanya saya penasaran dengan suara Coki yang lain dari biasanya.
“Morning rain… Judulnya morning rain. Isinya…. hmmm… doaku yang paaaaaaaling besar.”
“Apa?”
“Kami bertemu di surga”

ideatube.science

Dan fajar kala itu benar-benar menderas. Kami berdoa bersama. Ketika dunia dengan segala warnanya tak pernah bisa dilihat Key, begitupun dengan suaranya tak pernah sanggup lihai meluncur sebagaimana saya yang begitu mudahnya berucap A, B, C, dan seterusnya, setidaknya dia punya Coki. Key menyebutnya Gitar Lusuh Kesayangan. 

Coki. Notasinya tidak pernah berhenti berdendang pada setiap denting tanpa bunyi, sebagaimana doa-doa terbaiknya yang tidak pernah selesai dituliskan dengan air mata pada setiap waktu yang terus berlari.

Coki lah mulut Key. Katanya, kalau tidak bisa bicara, masih ada notasi yang punya ruang imaji lebih luas, lebih dalam.

Dan jawaban saya cuma, “Oh ya?”

Anyway, terima kasih untuk semua kebaikan dan nasihatmu, Key 🙂

Jumat, 4 Maret 2016
10:52 PM

Advertisements

10 comments

  1. nggak bisa menduga siapa coki sejak dari awal paragraf, gaya bercerita yg kereen haha (y)

    1. iiiiin… yang nulis nggak lebih keren dari yang komen di atas ini nih 😀

      1. adohai.. sukses buat mba sekar (y)

  2. “Jawaban yang kamu cari itu ada di antara kesulitan yang sekarang kamu alami.”
    Pelajaran yang sangat sangat bagus…

    1. alhamdulillah, terima kasih sudah mampir, mbak prita 🙂

      1. Sama-sama Kaaak

  3. dari awal udah tau klo coki itu bukan manusia, ternyataaa..

    1. dikira hewan peliharaan ya teh? hehe

  4. Neng sekaaar

    1. teteeeeeeeeeeh si seleblog, duh duh, mampir ke lapak blogger jelata

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: