Akselerasi Pendewasaan

Mendidik anak sama dengan mendidik zaman. Setiap tantangannya hanya dapat dijawab oleh orang tua yang punya kekokohan iman, kerapihan struktur pengetahuan, dan bermental pahlawan.

Rumah dan orang tualah tempat pertama yang harus siap sedia menjawab berbagai macam pertanyaan dasar utama, berhubungan dengan pembentukan pola pikir dan cara pandang anak.

Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

idawah.comau

Pendidikan tidak hanya identik dengan sekolah formal dan seragam. Sejatinya, pendidikan adalah proses masuknya ilmu ke dalam jiwa seseorang, hingga memunculkan pemahaman dan pola pikir yang bisa mengimbangi tuntutan dunia dengan segala tantangan dan problematika.

Oleh karena tantangan hidup tersebut mendahului kecerdasan manusia, maka perlu adanya akselerasi pendewasaan bagi para pemudanya. Menjadi pembelajar cepat adalah kemampuan mutlak yang mau tidak mau harus dibudayakan ada dalam diri setiap anak, tentu dengan bantuan penuh dari keluarga, khususnya orang tua.

Berpikir Cepat, Bertindak Bijak

careernews(dot)id

Akselerasi pendewasaan artinya bukan tuntutan menjadi seseorang di luar usia sebenarnya. Tapi kemampuan berpikir taktis, cepat, akurat, dengan tindakan yang matang, tidak asal-asalan. 

Belum lagi masalah di samping kanan kiri depan belakang rumah kita, masalah daerah, masalah bangsa, bahkan dunia. Siapa lagi yang akan mengurusinya di masa depan, jika bukan melalui tangan para pemudanya? Yang muda inilah yang ada di rumah kita, rumah para orang tua, yakni dalam jiwa anak. Seandainya tabir masa depan bisa dibuka, tidak akan ada satupun orang tua yang berleha-leha mengkader calon-calon pembawa risalah kejayaan. Semua orang tua akan berlomba memintarkan anaknya, bahkan dengan segala cara.

Pada titik ini, Ayah dan Ibu sudah harus selesai dengan dirinya sendiri. Jika belum, maka segera ubah visi dan rekonstruksi kepribadian diri agar mampu mengimbangi kecepatan perkembangan dunia.

Anak juga harus belajar hal yang sama dengan orang tuanya. Hanya saja, perlu keberanian ekstra besar untuk memberikan input yang sebetulnya berat ini kepada anak, sesederhana mungkin dan bertahap.

Budaya Diskusi

academiaedu

Latih kognisinya sedini mungkin agar merangsang kepala dan jiwanya untuk semakin ingin tahu, semakin kritis. Jika anak sudah mulai banyak bertanya, orang tua bisa mengarahkannya menjadi diskusi ringan dan hangat bersama seluruh anggota keluarga.

Diskusi kecil yang bisa dilakukan di mana saja. Otak anak akan terlatih untuk berpikir, menganalisa, dan tentu semakin cerdas. Sayangnya, budaya ini yang justru hilang dari setiap rumah, dalam setiap keluarga.

Jangan Lupa Apresiasi

blog.tokopediacom (2)

Terakhir, setelah melalui proses panjang yang dilakukan anak, suami, istri, seluruh anggota keluarga terhadap kegigihan mereka mengubah diri, belajar hal baru, jangan pernah lupa untuk mengapresiasi usaha yang dilakukan.

Namanya Appreciative inquiry. Artinya, kecerdasan apresiatif, terkait dengan kemampuan mengapresiasi diri dan orang lain.

Sebab Allah pun tak pernah melihat hasil, namun prosesnya. “Semua ini adalah balasan untukmu dan setiap usahamu disyukuri oleh Allah” (Al Insan: 22)

Rasulullah juga menekankan pentingnya mengapresiasi dan berterimakasih pada manusia: “Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak berterima kasih kepada Allah”

Allah memerintahkan manusia untuk berterimakasih pada kedua orangtuanya sebagaimana dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 14: “Dan Kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah lemah lalu menyusui dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuaku. Kepada-Ku lah kembalimu”.

Jangan menuntut anak atau orang lain untuk percaya diri, kalau kita tak pernah bisa mengapresiasi, menghargai setiap jengkal usahanya. 

Wallahu’alam bissawab

**ditulis super kilat, dan mesti dielaborasi lagi. ^^”

fenomena kekinian
Jumat, 6 Mei 2016

2:03 WIB

 

Advertisements

4 comments

  1. Disimpen dulu utk nanti kalau dikasih anak 😄

    1. aiih~ aamiin semoga diberi yang terbaik ya kaknon *hug

  2. Tidak akan ada satupun orang tua yang berleha-leha mengkader calon-calon pembawa risalah kejayaan.

    Benar banget mbak, tapi yg saya lihat sekarang, walaupun pasti semua orang tua mempunyai niat baik untuk menjadikan anak lebih baik dari orang tuanya. Yg sering saya lihat malah cara penyampaian maksud tersebut yang kurang tepat. Misal kalau ada anak yg kesusahan dalam melakukan suatu aktivitas gitu, ortu langsung sigap membantunya. Kan lebih baik membiarkan anak tersebut berusaha terlebih dahulu untuk memecahkan masalahnya sendiri, baru kalau memang benar-benar egak bisa, orang tua bisa mengarahkan (enggak harus membantu semua).

    Tidak masalah anak mengalami sedikit luka, sedikit nangis, sedikit kecewa, sedikit telat dan sedikit kehujanan. Akui kesulitan yang sedang dia hadapi, Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan, ajari menangani frustrasi. Ibu Sarra Risman

    Btw salam kenal mbak sekar, hehe

    1. setuju. anak harus belajar memanajemen dirinya utk survive di kehidupan sosial. Bekal masa depan sih ya.

      btw, salam kenal kembali 🙂

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: