Mencari Sesuatu ke Masjid Salman ITB

Beberapa hari lalu saya berkesempatan mengunjungi masjid salman ITB. Bersama rombongan kondangan satu mobil, kami mampir untuk sholat. Itu saja. Tidak ada kegiatan lain yang kami niatkan di masjid tersebut, misalnya saja, tidur sebentar, atau bertemu kawan di ITB.

IMG20160430124819

Saya agak kecewa begitu masuk ke dalam gedungnya dan tidak menemukan suasana tenang dan syahdu. Sebab begitu sampai, saya justru ingin cepat-cepat menyelesaikan hajat dan segera pergi. Saya bertemu lalu lalang orang di sepanjang jalan masuk, tempat wudhu yang ramai, aula utama untuk sholat yang penuh jamaah, emperan masjid yang disibukkan dengan aktivitas mahasiswa, laptop, dan tugas-tugas kampus. 

Rasa-rasanya ada yang salah.

Seringkali saya tidak berhasil mendapati sebentuk perasaan khidmat dan (saya sebut lagi) kesyahduan, ketika saya justru mencarinya dalam bentuk bangunan. Hadir, masuk ke dalam sebuah gedung, lalu mencarinya seperti mencari uang logam yang hilang.

Pada saat itulah saya tidak akan memperoleh apapun, selain kecewa. Masjid salman bukan destinasi yang saya cari, meski saya akui, tempat itu sungguh nyaman, adem, mata dimanjakan dengan arsitektur keren. 

Seharusnya, tanpa perlu ke masjid yang elegan ini, saya akan menemukan katarsis paling sempurna dalam diri saya sendiri. Kenapa harus sibuk dicari? Khidmat itu ada dalam diri saya. Kenapa harus mencari sampai ke Bandung?

Sholat. Apakah di sepanjang hidup, sholat saya tak pernah khidmat? Tidak sekalipun pernah benar-benar khusyuk? Entahlah. Ketika saya masih saja mencari khusyuk, bagaimana rupa syahdu dan tenteram, barangkali… barangkali saya belum benar-benar mendirikan sholat dengan sepenuh hati, dengan jiwa total.

Sebagaimana seseorang yang mencari dimana Penciptanya berada: Ia berada lebih dekat dari urat nadi seorang hamba. Dekat sekali. Maka beberapa pertanyaan hidup seringkali hanya bisa dijawab oleh nurani, bukan melalui buku-buku, penjelajahan antar kota, provinsi, bahkan benua. Cukup tengok hati, dan jujur pada diri sendiri.

Khusyuk, dalam sejarah hidup orang-orang sholih, tak perlu dicari sebab demikian mudahnya didapat melalui tiap-tiap takbiratul ihram, tiap-tiap rukuk, tiap-tiap sujud, tiap-tiap duduk tasyahud, tiap-tiap yang rutin dilakukan belasan sampai puluhan kali dalam sehari.

Setelahnya, hasbiallaahu… Allah cukupkan hati seorang hamba dengan ketenangan yang luar biasa hingga tak ada lagi urusan lain yang perlu dikhawatirkan. Allah telah cukupkan kebutuhan dunianya dengan ruh yang kembali segar, jiwa yang kembali bugar. 

dijalanterang.blogspotcom
dijalanterang-blogspot.com

Lantas bagaimanakah sholat saya selama ini?

Allahumma waffiqnaa Yaa Allah
Kamis, 12 Mei 2016
9:43 pm

Advertisements

2 comments

  1. Setelah berkunjung ke Masjid ITB, coba selanjutnya berkunjung ke Masjid Manarul Ilmi ITS hehe. Khusyuk memang tidak dicari tetapi diciptakan.

    1. mbakden tiap komen pasti ngejleb. makasih banyak mbak… aku nyari kata-kata itu dari kemarin pas nulis, tapi kok ya nggak kepikiran.

      “Khusyuk itu diciptakan, bukan dicari” naaah ini kalimat yang keren! 😀

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: