Rahasia Si Penulis Lepas #2

Aku sudah disibukkan dengan kegiatan baru. Pekerjaan kantor yang menumpuk, ponsel yang tidak pernah berhenti berdering dan memunculkan pemberitahuan bahwa ada janji dengan klien yang harus kupenuhi cepat. Bahkan aku bisa menghabiskan 24 jam di kantor hanya untuk bekerja. Lebih tepatnya, bekerja keras melupakanmu.

Workaholic adalah pilihan yang tepat, sejauh ini, untuk menghindari lemari buku di rumah. Setelah surat pertama dan terakhirmu kemarin, aku takut aku akan membenci aktivitas yang dulu sangat kucintai betul; membaca buku. Sebab membuka lembaran kertas sama dengan menyibak wajahmu.

“Kita akan hidup bersama di masa depan, kan?” tanyamu suatu sore, di penghujung musim kemarau.

Aku menggeleng pelan. “Kita tidak pernah mendapat tugas untuk memastikan. Itu bukan pekerjaan kita.”

“Lalu bagaimana dengan aku dan kamu?” timpalmu. “Kurasa, aku bisa memastikan ke mana takdir kita akan mengarah,” anggukmu yakin sekali.

Kutatap wajahmu dari samping. Wajah yang mengeras. Mata tajammu menekuri langit dari tepian Sepanjang, di bawah teduh akasia yang ikonis. Terkadang, keras kepalamu membuatku banyak berharap hal yang sama; betapapun jauhnya, kita akan bertemu kembali di akhir perjalanan. Begitulah, sekarang harus kutelan paksa harapan yang kubangun sendiri.

Kamu tidak pernah muncul lagi, semenjak surat pertama dan terakhir itu. Dan memang setelah kita bertemu di Sepanjang, aku tidak pernah melihat, mendengar, dan membaca kabarmu sama sekali. Hampir tujuh tahun, dan semuanya selesai hanya dengan satu surat darimu.

IMG20160803172800

dok.pribadi

Ini cerita yang sangat amat klise. Bila melihat televisi, dan tanpa sengaja menemukan potongan berita tentang pemuda 17 tahun yang menikahi wanita 3 tahun di atasnya, segera kumatikan.

Dulu, kita terlalu muda dan lugu untuk berbicara tentang komitmen hidup yang pertanggungjawabannya demikian berat. Kita terjebak oleh gairah dini yang menggebu-gebu, lalu dengan mudahnya mengikat janji. Kita tidak benar-benar punya ilmu.

Kita lupa, bahwa perasaan adalah sebentuk “nyawa” di dalam hati yang mudah terkoyak karena terlalu berat membawa benda tajam. Yang tajam itulah… harapan. Membuat manusia mampu melakukan apapun atas sesuatu yang tak pernah pasti bagaimana akhirnya.

Meski kuputuskan menjadi karyawan dan menghabiskan banyak waktu di kantor hingga kembali ke rumah hanya menyisakan letih dan kantuk, sekarang dan selamanya, aku tetap menjadi penulis.

IMG-20160617-WA0031

dok.pribadi

Sebab dengan menulislah, aku sanggup mengingat dan melupakanmu dalam satu waktu.

halaman 2,
Sabtu, 20 Agustus 2016

9:54 PM

Advertisements

26 comments

  1. Waw se… Kebayang lu jadi si “aku”. Hahha

    1. haha dari hati banget nih nulis postingannya :p

      1. Ahay… Ciyee…
        Sekar punya hati~

  2. Kereeen…. kpan bukunya terbit?

    1. T___T tahun ini insyaa Allah Dila. Doakan aku istiqomah. Lagi masuk ke fase paling sulit dalam menulis. huhu

  3. Semua lelaki memang sama! Huft…

    1. termasuk kamu ya, fadel haha :p

      1. Entahlah ka. Saya sendiri masih dalam pencarian jati diri *eh

  4. Semoga lancar jaya Sekar proses menulis bukunya. Mudah2an kalau sudah keluar aku bisa beli bukunya.

    1. mbakden, bakal aku kirimi spesial ke Belanda. 🙂

  5. Diangkat dari kisah nyata itu Sekar? :0, komitmen itu butuh kekuatan sih, cuma kalau sudah ketentuan Allah Ta’ala, segala prosesnya gak bakal butuh waktu panjang

    btw semangat ya nulisnya, entar aku order in syaa Allah 🙂

    1. yap. kisah nyata, tapi bukan kisah pribadi hehe. Menurutku, ini ujian ringan. Tapi seringkali kerikil kecil begini justru jadi sandungan (ujian, red.) buat orang-orang besar. Makanya harus hati-hati sekali menjaga perasaan orang lain.

      Bener lho yaaa nanti beli bukuku. Dicapture ini komentarnya. :p

      1. Ya, kalau ga mau tanggung jawab ya ga usah sentuh perasaannya 😛

        Iya2 in syaa Allah aku order, dicapturenya seratus kali, sekalian dikasih materai biar bisa jeblosin aku ke penjara :p

  6. Jadi inget dulu ada situs berjudul sama dengan judul tulisan ini, yang mana orangnya sekarang jadi ngetop hahaha

    1. serius om? semoga aku bisa ngikutin orang itu tapi yang ngetop biar tulisannya aja, akunya nggak usah hehe 😀

  7. Ngefans ih… Based on true story yak?

    Meski kuputuskan menjadi karyawan dan menghabiskan banyak waktu di kantor hingga kembali ke rumah hanya menyisakan letih dan kantuk, sekarang dan selamanya, aku tetap menjadi penulis.

    Yg bagian itu suka bangeeet.

    1. iya za, ke depannya based on true tapi nggak 100% 😀

  8. keren sekaaar 😀 Nanti aku juga mau order aah.. semoga lancar2 ya prosesnya 🙂

    1. aamiin. asik asik. bener yaa? 😀 dicapture nih komennya *maksabangetsihkaar*

  9. Seperti biasa, tulisan Sekar, ramai peminat. Keren2..

    1. halah mbak ^^” kebetulan aja karena aku sering jalan-jalan *blogwalking hihi

      1. Sekar, tolong bantu do’a buat aku, yak. Mudah-mudahan tesisnya lancar dan cepat selesai. Hehe

        1. Aamiin yaa Allah. Semoga Allah mudahkan selaluu dan ilmunya berkah mbaak 😀 cepetan pulaaang

          1. Iya, Sekar..
            Pengen pulang..
            Terus ketemuan sama Sekar.. 🙂

  10. uhuyy..ini fiksi atau fakta?

    1. fakta 80% mbak 😀

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: