Jadi Berani Itu Susah

Berangkat dari keterkejutan saya terhadap kisah kakak kelas di penjara, sebagaimana yang pernah saya tulis di sini, ternyata rupa keberanian itu memang tidak bisa dilihat dari seberapa besar ukuran dan bentuknya, tapi sangat bisa didefinisikan. Definisi itu muncul dari sikap dan tatapan seseorang yang dalam dirinya hanya ada dua sudut pandang; kematian dan perjumpaan.

Refleksi An Nuur [24]: 36-38

Islam menyebut orang-orang itu dengan sebutan ihsan. Mereka yang merasa selalu dimonitori Allah dalam setiap gerak, di setiap langkah, sehingga pada setiap detiknya selalu menjaga diri agar jangan sampai Allah melihat mereka dalam keadaan kurang beriman/melakukan perbuatan tercela.

Mereka, yang menegakkan shalat agar terus terhubung dengan Rabb-nya. Menegakkan berarti menunaikannya tepat waktu, khusyu’, disertai pemaknaan yang dalam terhadap bacaan yang diucapkan. Melalui An Nuur, Allah tunjukkan bagaimana sifat para laki-laki pemberani.

Tangan dan wajahnya mewariskan garis-garis keras, siap menantang zaman, melawan tipu muslihat dunia beserta segala kemewahannya. Namun, hatinya tunduk patuh terhadap setiap huruf yang diperintahkan Rabb-nya. Matanya selalu gerimis diliputi kepasrahan dan kerinduan.

Karakter Pemberani

Na’im Yusuf dengan tulisan-tulisan bernasnya dalam Seberapa Berani Anda Membela Islam? menyertakan bukti-bukti berupa sejarah dari para sahabat dan dalil-dalil yang menyertainya.

Ternyata, keberanian lahir dari keimanan yang kokoh. Untuk mencapai satu titik dimana kekokohan itu sudah mengakar kuat, maka sepanjang prosesnya, mereka mampu menaklukan ketakutan terhadap apapun, bahkan kematian sekalipun.

Dalam diri mereka, kematian adalah momen paling dirindukan. Sebab, usai sudah perjalanan melelahkan yang menguras energi. Berakhirlah sandiwara di atas panggung yang disoroti ribuan lampu, silau, ramai, riuh, pengap. Semuanya sudah selesai. Tidak akan lagi mereka terluka, dan tidak akan ada rasa kecewa berulang kali. Maraton panjang sudah sampai di garis akhir, waktu pemberhentian berikutnya telah menanti.

Seperti Apa Wajah Si Pemberani?

Na’im Yusuf menuturkan bahwa Allah lah yang menghendaki siapa saja para pemberani itu yang kelak akan menyelamatkan kapal ummat muslim dari ombak ganas dunia.

bersamadakwah

bersamadakwah

Kelak, ia akan muncul dengan segenap kekokohan akidah, kekuatan iman, mengenakan baju zirah terbaik dan bersiap segenap jiwa raga berperang sampai darah habis tertumpah.

Yang para pemberani takutkan hanya satu; murka yang berujung pada laknat Allah. Matanya tajam menyisir kebathilan, tangannya kokoh menumpas kejahatan.

Tapi hatinya…

Hatinya syahdu merindu bertatap wajah dengan Allah dan Rasul-nya. Kerinduan itu ia tuntaskan dengan cita-cita yang terpasung tinggi, tidak pernah menyerah sesulit apapun keadaan dan ketidakseimbangan di sekelilingnya. Ia hanya punya mindset khalifah, dimana dengan mindset tersebut, lingkungan yang tak sehat adalah tanggung jawabnya untuk menata.

Ia hanya punya mindset ibadah, dimana dengan mindset tersebut, segala permasalahan yang ada merupakan peluang untuk mengabdi pada Yang Maha.

Siapakah dia?

Dialah yang berani membela Islam meski harus berjumpa dengan kematian. Sebab setelah tiba kematian, rindunya akan terbalaskan. Apa lagi kalau bukan perjumpaan dengan Allah ‘azza wa jalla?

Advertisements

8 comments

  1. Super Sekaliiiii 🙂

    1. siapa dulu dong yang menginspirasi gue…….. M Fauzi! Gila kan… keren dari lahir emang itu orang

  2. Karakter Para Sahabat nih

    1. susah ya cari model begini zaman sekarang

  3. jadi tambah ilmu nih baca ini 🙂

    1. ciee kaknoni

  4. Jazakallah ka. Renungan yang bagus 🙂

    1. wa iyyak, fadel. teruslah menulis cermin yang lucu 😀

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: