Ketika Pekerjaan Melenceng dari Jurusan

Dosen saya pernah bilang, hanya 30% lulusan PT yang bekerja sesuai bidangnya/program studinya. Sisanya, kemana saja; mengejar passion yang sudah lama ditinggalkan, menekuni hobi, jualan, jadi IRT, atau bahkan nasibnya jauh dari ekspektasi pendidikan alias bekerja serabutan, dan jenis-jenis pekerjaan yang dianggap (maaf) rendah.

Buat Apa Kuliah Kalau Bekerja Tak Sesuai Jurusan?

Bagi saya, kuliah tidak hanya tentang ijazah, pekerjaan, dan uang. Kalau tujuan kuliah cuma untuk ketiga hal itu, maka jangan heran banyak sekali jasa jual beli ijazah, jasa pembuatan skripsi-tesis-disertasi, titip absen, dan sejenisnya. Dan memang masih banyak yang kuliah demi tiga tujuan itu. Saya pun niatnya begitu dulu, hehe.

Setelah mengalami banyak jatuh bangun semasa mahasiswa, saya mulai menemukan alasan-alasan mengapa jenjang ini menjadi keharusan untuk saya lewati, meski dikemudian hari saya justru berencana untuk tidak bekerja kantoran sama sekali, di rumah saja membersamai anak-anak. 

Ternyata, saya kuliah tak lain sebagai jalan untuk merekonstruksi struktur ilmu pengetahuan, yang sebelumnya masih setengah dan berantakan, kemudian disusun kembali menjadi rapih. 

Menata Pola Pikir

Semakin saya terdidik, maka saya harus semakin santun dan matang dalam bersikap. Kesimpulan baiknya begitu. 

Di Perguruan Tinggi, saya belajar bagaimana menganalisa masalah secara tajam, berpikir strategic, dan merumuskan jalan keluar yang paling minim risiko.

Saya belajar membuat kerangka berpikir yang sistematis, menyusun pola-pola didalam kepala agar bisa memahami secara utuh sebuah persoalan, kemudian mampu mengambil sikap dengan pertimbangan bijak. 

Saya belajar itu semua selama menjadi mahasiswa, selama berinteraksi dengan beragam kepribadian, meski tak jarang idealisme dipertaruhkan.

Maka, ketika saya kuliah demi menyempurnakan ilmu, saya akan menjadi dewasa secara sempurna dengan kesiapan penuh, serta tidak berantakan dalam bersikap.

Nah, jadi jangan heran dan aneh kalau kemudian lihat ada orang berpendidikan tinggi tapi tidak punya sopan santun, hobi bicara kasar, sombong, atau bahkan kampungan. Itu tandanya dia tidak benar-benar belajar sewaktu kuliah, tidak sungguh-sungguh menuntaskan jenjang maha-siswa.

Kalau kuliah sekadar kuliah, apa bedanya saya dengan bapak ibu terhormat yang hobi makan uang haram itu? 

Miniatur Bernegara dan Mendewasa

Saya pikir, jenjang ini tidak akan bisa saya dapatkan selain di bangku kuliah. Sebab, dalam satu waktu jadi anak baik dan lurus a.k.a idealis murni, lalu jadi anak nakal yang hanya akan dianggap sebagai hal wajar oleh orang-orang tua, hanya bisa terjadi didunia mahasiswa. Boleh saja jika ada yang tidak setuju.

Bahkan bagaimana dinamika pemerintahan juga bisa saya tengok miniaturnya di kampus (organisasinya). Termasuk bagaimana rasanya beralih jadi dewasa juga bisa saya dapatkan di tempat yang sama.

Lalu Soal Pekerjaan?

Jika tujuan kuliah tidak sekadar tiga hal tadi, saya rasa tidak masalah seperti apa jenis pekerjaan saya kelak. Sebab, hendak bekerja dalam bidang apa kita nantinya, itu pilihan. 

Proses dan dinamika peralihan masa-masa muda (kepribadian, pola pikir, dan daya serap terhadap ilmu yang dipelajari) di Perguruan Tinggi sudah cukup menjadi modal untuk menghadapi dunia pasca kampus. Soal isi transkrip, bebaaaas. 😛

Sekarang saya jadi wartawan, dan saya tetap tidak berniat menjadi PNS, apalagi PNS pertanian. Ini pilihan saya. Kalau jadi penulis/editor buku-buku pertanian, masih oke lah. Hehe. 

5.0.2

5.0.2

Jadi……….
ya, gitu.

makan singkong goreng,
Senin, 30 Januari 2017

6:18 PM

 

Advertisements

20 comments

  1. Ada banyak yang tidak menikmati proses belajar di perkuliahan, hanya mengejar gelar saja. Jadinya setelah lulus, mereka ga ingat apa saja yg terjadi selama kuliah. Padahal perkuliahan sendiri bukan hanya datang pada saat kuliah lalu pulang. Ada UKM yg bisa dimanfaatkan, bersosialisasi dengan dosen contohnya jadi asdos, mulai menjalin network, ikut proyek2 kampus dll. Perkara lulusnya kerja jadi apa, itu urusan nanti sesuai panggilan hati. Yg terpenting proses belajar selama kuliah itu yg harus dimaksimalkan. Setelah 7 tahun kerja sesuai bidang keilmuan, kerjaku sekarang ga ada nyantol2nya sama sekali dengan gelar dan mata kuliah. Tapi aku suka karena belajar banyak hal baru. Ada yg komen “kuliah s2, kerjanya beda banget sama gelarnya” aku cuma senyum aja, karena ga harus menjelaskan juga kan 😀

    1. huwaaa… jadi pengen diskusi banyak sama mbakden 😦 pada dasarnya, manusia butuh tantangan, apalagi yang kepribadiannya dinamis. Kerja di bidang yang sangat baru itu jadi nilai istimewa. Barangkali begitu. Betul mbak, panggilan hati. Kalau dikerjain setengah-setengah, hasilnya pasti ga maksimal. ah, mbakden udah makan asam garam kehidupan nih. Mesti banyak belajar. *salim

  2. Sepakat, bekerja tdk perlu sesuai jurusan, tapi idealisme saat kuliah dahulu harus diteruskan…

    1. elam temennya rahma dije ya?

  3. Banyak emang yg kayak gt ya. Beda kerjaan sama kuliahnya. Yg penting kan yg jalanin seneng2 aja

    1. iya. ada orang sering ribet ngurusin takdir orang lain.

  4. keren sekali tulisannya kakak…. 😀

    setuju banget bahwa masa menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi bukan soal meraih gelar,lalu bekerja saja. namun, tentang pembentukan pola pikir dan proses belajar bersosialisasi sebagai manusia dewasa

    mari terus belajar:)

    1. siapa dulu dong inspiratorku ngeblog….. Ibu Pradila Maulia Sehat Sentosa Multiguna Sumber Daya Manusiaaaa…

      1. Boong beuuutttt 😜

  5. setuju, bahkan perempuan yang berpendidikan tinggi tapi stay – at -home – mom di anggep nyia2in pendidikannya. Padahal dia mendidik anaknya untuk jadi next gen adult hahah. Kuliah itu penting banget prosesnya selain ilmu yang di dapet 😀

    1. yes! di jepang aja ibu-ibu yang berpendidikan tinggi (S3) udah mulai memilih kerja di rumah karena merasa pendidikan yang mereka punya itu justru buat minterin anak. kak aikoo, aku padamuu~

      1. semoga kita orang Indonesia juga bisa lebih open minded dan menghargai yaa 🙂

  6. Mama papa saya, keduanya sarjana pertanian tapi pekerjaannya meleceng. Pengalaman selama s1nya yang membuat mereka bertahan, bukan ilmu dasar pendidikannya, hehe

    1. tuh kan, fakta papa mamanya fira membuktikan. 🙂 btw, sarjana pertanian dimana? jangan jangan satu almamater hehe

      1. Universitas Bengkulu kak 🙂

  7. Yap, itu dia. Sistematika dan mekanisme berpikir, kematangan emosional, jaringan relasi, dan banyak lagi faedah berkuliah di samping ilmu dan ijazah yang kita terima. Saya sendiri perlahan merasakan manfaat yang saya sebutkan di atas. Itu juga yang menjadikan anak kuliahan berbeda dengan yang lain. Tentang pekerjaan, entahlah. Saya belum sampai ke level itu. Tingkatannya sudah sampai hajat hidup masing2 hoho

    1. nikmati dulu selagi masih bolak-balik kampus, del. Sambil siapkan mental supaya siap dilepas keluar, di dunia yang zamannya sudah semakin kacau.

  8. Bener banget, Kak! Kadang suka galau soal pekerjaan setelah lulus dan kaitannya dengan jurusan. Tapi setelah dipikir-pikir, memang benar bahwa kuliah bukan cuma sekedar nilai, ijazah 😀 Entah kenapa jadi happy setelah baca tulisan ini. Hehe. Thanks for sharing Kakkk

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: