Rasanya Hidup di Jakarta

Enam bulan lebih tinggal di Jakarta, akhirnya saya tahu kenapa kota itu disebut-sebut sebagai kota dengan kehidupan yang kejam, keras, manusia-manusianya harus tahan banting, pokoknya segala sebutan yang berbau banting tulang, termasuk ‘kerja apa aja yang penting bisa tetep hidup’ 

Dan… ya! saya merasakan betul aroma persaingan, gontok-gontokan, semua orang letih, tapi mereka tak bisa apapun selain terus bekerja, terus cari uang supaya bisa lunasi hutang, supaya bisa bayar kontrakan, supaya anak istri bisa makan, dll dll. 

Tekad saya makin bulat sempurna untuk tidak tinggal di Jakarta kelak. Bagi saya, Jakarta bukan lokasi yang pas untuk dijadikan tempat tinggal, tempat istirahat, tempat tumbuh kembang anak cucu cicit. 

Yah, tinggal dimana aja tergantung kita sih ya. Tapi tetep lah, gamau tinggal di Jakarta. Aaaaaak. 

Bagi saya, tinggal di kaki gunung dengan segala kesederhanaan, dan barangkali, keterbatasan akses serba kekinian sebagaimana di Ibukota atau kota besar, –eh, signal juga ya– jauh lebih membahagiakan, demikian bersahaja dan lebih mudah mendefinisikan bagaimana bentuk hati yang lapang dan selalu merasa cukup. 

img-20160529-wa0003

img-20160529-wa0007

img-20160529-wa0008

img-20160529-wa0005

Semakin lama bekerja di Jakarta, semakin saya bosan dan rindu mati dengan desa dan sebuah tempat tinggal berkayu jati pada setiap sudutnya. Kini, atapnya mulai rapuh digerogoti rayap, menyisakan kenangan-kenangan tentang kesulitan, air mata, dan jalan cerita yang tidak cengeng.

Rumah Eyang di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah ini lantainya cuma dilapisi semen, bahkan beberapa ruang kamar tidur ada yang masih tanah. Sewaktu balita, sebagian ingatan saya tertinggal disini, di rumah jati ini. 

Sampai eyang buyut meninggal, intensitas ke rumah ini semakin jarang. Untuk sampai ke sini, saya perlu lewati jalan kecil yang kanan kirinya sawah luas. Setiap papasan dengan warga, sedingin apapun cuaca, saya selalu merasa hangat disenyumi tetangga. Tulus sekali.

Saya tidak dapatkan yang begini di Jakarta.

Semakin lama sebuah buku berada di dalam lemari, semakin mudah kertas-kertasnya menguning, berjamur. Bagi para pecinta buku, wangi yang kemudian menguar dari buku lapuk berjamur ini sungguh menggoda.

Barangkali, rindu serupa kertas buku. Semakin lama dibiarkan, semakin lekat ingatan yang lalu-lalu, semakin syahdu hati berterusterang bahwa kita demikian bersyukur atas takdir yang selalu berjalan tepat di atas lintasannya. 

kangen kampung,
Jumat, 3 Februari 2017
1:09 AM

Advertisements

19 comments

  1. Aku suka Jakarta dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Sekar 😊 tapi memang untuk merecharge energi hati, sesekali butuh pulang kampung ke tempat yg bisa bikin kita damai 🙂 btw foto rumahnya bagus deh 🙂

    1. Aku nggak terbiasa dengan kebisingan. Salut buat yang terbiasa dan memang lahir dan besar di jakarta. Semoga sehat selalu, mbak messa dan tetap bahagia 😀

      1. Makasih sekar 😊

  2. Home sick patient identified…
    Sepanjang hidup saya, tidak pernah saya tinggal lama di lingkungan pedesaan yang hijau nan asri bak memanjakan mata seperti Jatianom pada gambar di atas. Tempat saya berasal adalah kampung dengan tanah yang gersang dan suhu menyengat. Tak ada petani, tak ada sawah. Tentu melihat hal seperti itu memang membuat iri penduduk kota, yang sumpek dan tidak enak dibahasakan. Namun saya tetap suka hidup di kota beserta segala kemudahan akses kehidupannya. Suatu faktor yang juga diidamkan jutaan penduduk lainnya. Kelak, ingin saya duduk di teras depan rumah sambil menikmati hijau dedaunan dan semilir angin yang sejuk. Istirahat di tempat seperti itu pastilah menyenangkan, selain pulang ke tempat kita berasal pastinya 🙂

    1. fadel, kamu sukses bikin aku baper 😦

  3. Orang tua tinggal di mana?
    Aku pun merindukan suasana desa, main ke kebon, main sama sapi, bakar singkong di dapur huhuhu

    1. di bogor, kak bije. Kalo pas traveling gitu kerasa banget ya kak kangen rumah 😦

  4. Aha!
    Iya, jakarta bagi aku juga ‘mengerikan’
    Tapi entah kenapa, malah betah 😀

    1. kalo lama ditinggali mungkin jadi terbiasa ya. tapi aku ga mau sampai terbiasa haha

  5. saya pun merindukan suatu saat nanti akan menua di desa … jenuh dengan rutinitas kota

    1. setujuuu! desa di kaki gunung ya mbak. adem, hehe

  6. Wah, sama dong. Kalo aku sekarang lagi kangen Jakarta #hehehee kangen sama bisingnya dan gak bisa tidur nya.#hahaha#halah Kalo tinggal lebih senang dipinggiran, di kampung.

  7. Kampungmu di Klaten ya 😻. Aku rindu bgt juga rumah temenku disana. Ahhhh

    1. iyaa kaknon. yang banyak sawahnya kayak tentram gitu hehe

  8. Jakarta itu asyik kalau untuk nyari duit dan belajar banyak hal. Tapi kalau untuk tempat tinggal, buat aku pribadi yg asalnya dari desa, ga cocok. Makanya cukup bertahan di sana 6 tahun.

    1. ah bener banget mbakden. Yang bikin aku bela-belain ke Jakarta karena informasi dan teknologi mudah diakses. Update aja gitu kalo deket-deket Ibukota. Dulu pas jamannya medsos belum tenar, aku udah suka main sih di Jakarta. Tapi nggak mau lama-lama hehe

  9. Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri katanya 😜 tapi gimana juga macetnya, persaingannya aku kok cinta ama Jakarta

    1. enjoy jakarta, mbak 😀 aku kebiasaan hidup lamanya di daerah desa, jadi semacam culture shock yang nggak selesai-selesai haha

  10. […] satu-satunya alasan saya bertahan untuk tidak tergoda bekerja di Ibukota. Saya pernah menulis di sini mengapa saya tidak suka Jakarta. Tapi, jika hanya untuk merantau barang dua, tiga atau lima tahun, […]

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: